
(Lampung Timur, 26 Januari 2026) – Di wilayah Lampung Timur, sebuah kasus pembunuhan yang sangat brutal telah mengguncang hati nurani segenap masyarakat yang mengetahuinya, namun sayangnya belum mendapatkan perhatian nasional yang setimpal dengan kekejamannya. Korban adalah Riyas Nuraini, seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pengantar makanan dan melayani layanan COD (Cash On Delivery) dengan mengendarai motor sendiri. Dia bukan selebriti, bukan influencer, tidak memiliki kamera yang merekam aktivitasnya, dan tidak punya panggung untuk menyuarakan kehidupannya – hanya seorang perempuan dari lapisan masyarakat paling rawan yang kini tak lagi bisa kembali ke rumahnya.
Ceritanya dimulai ketika Riyas pagi harinya pamit untuk bekerja seperti biasa. Namun, malam harinya ia tidak kembali ke rumah dan akhirnya ditemukan sebagai mayat terbungkus karung, diletakkan di atas motornya sendiri, di tengah kebun jagung. Kondisi jasadnya sangat menyayat hati: tengkorak retak parah, wajah dihancurkan, leher nyaris putus, dan terdapat indikasi kuat adanya kekerasan seksual sebelum ajal menjemputnya. Ini bukan sebuah kecelakaan – ini adalah bentuk eksekusi yang kejam terhadap seorang perempuan yang hanya berusaha mencari nafkah dengan bekerja sendiri.
Sayangnya, sorotan publik Indonesia saat ini lebih banyak terfokus pada omongan yang muncul di podcast ketimbang mengajukan pertanyaan krusial: mengapa seorang ibu bisa dibantai dengan kejam seperti ini tanpa adanya upaya keadilan yang cepat dan sigap? Alasannya sederhana – Riyas tidak “menjual” dalam konteks yang bisa menarik perhatian massa. Penderitaannya tidak dianggap estetik, dan kematiannya tidak bisa dijadikan konten yang digunakan untuk bersikap sok suci.
Kenyataan yang pahit adalah, Indonesia bukanlah negara yang kekurangan empati – namun empati yang diberikan seringkali salah sasaran. Kita dengan senang hati membela perempuan ketika mereka viral, ketika ada wajah yang dikenal publik, atau ketika ada potongan video yang bisa menyentil emosi. Namun begitu perempuan tersebut bekerja sebagai pengantar COD, hidup di pinggiran perlindungan hukum dan sosial, hingga akhirnya mati dan dibiarkan terbungkus karung – Indonesia seolah-olah memilih untuk menjadi buta dan tuli.
Padahal, kasus ini bukanlah kasus kecil yang bisa disepelekan. Banyak indikasi yang menunjukkan bahwa kasus ini perlu diselidiki secara mendalam dan menyeluruh: terdapat jeda waktu yang janggal antara saat ia pamit bekerja hingga ditemukan sebagai mayat, ada alibi yang tampak bolong dari pihak yang terkait, terdapat bukti DNA yang bisa menjadi kunci untuk mengungkap identitas pelaku, ada dugaan bahwa pelaku adalah orang dekat korban, serta ada kecurigaan bahwa Riyas telah terjebak dalam tipuan yang menyamar sebagai pesanan COD.
Kematian Riyas Nuraini bukan hanya sebuah kasus pembunuhan tunggal – ini adalah cermin yang memperlihatkan kondisi keamanan dan perlindungan yang masih sangat minim bagi perempuan dari lapisan ekonomi lemah yang bekerja keras untuk menghidupi diri dan keluarganya. Pertanyaan yang harus kita tanyakan bersama adalah: hari ini korban adalah Riyas, besoknya siapa lagi yang akan mengalami nasib sama pahitnya?
(*)
