
Surabaya, Jawa Timur – Ketegangan muncul di sekitar gerai Mie Gacoan Mayjen Sungkono, Surabaya, setelah sejumlah organisasi masyarakat (ormas) menolak penerapan sistem parkir digital yang baru diimplementasikan pihak pengelola. Peristiwa yang tercatat pada Sabtu (26/12/2025) pukul 23.22 WITA sempat membuat warga dan pelanggan waspada, sebelum akhirnya pihak terkait sepakat untuk menyelesaikannya melalui jalur dialog.
Penolakan ormas terhadap parkir digital tidak muncul tanpa alasan. Menurut perwakilan ormas yang bersangkutan, sistem baru ini dianggap akan mengancam mata pencaharian puluhan juru parkir konvensional yang selama bertahun-tahun telah mengelola area parkir di sekitar lokasi. Mereka menyatakan bahwa juru parkir tersebut telah menjadi bagian dari komunitas lokal dan banyak yang menggantungkan hidup keluarga dari pendapatan tersebut.
“Kami tidak menentang kemajuan, tetapi tidak boleh dengan mengorbankan rekan-rekan kita yang sudah lama bekerja di sini,” ujar [Nama Perwakilan Ormas], dalam keterangan yang diterima. “Para juru parkir ini bukan hanya mencari uang, tapi juga membantu menjaga keamanan kendaraan pelanggan. Sistem digital tidak akan bisa memberikan sentuhan manusia yang sama.”
Di sisi lain, pihak pengelola Mie Gacoan Mayjen Sungkono menjelaskan bahwa penerapan parkir digital bertujuan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, dan transparansi bagi pelanggan. Mereka menyatakan bahwa sistem ini dirancang untuk mengurangi masalah kecurangan dalam pengelolaan uang parkir dan mempermudah pelanggan dalam melakukan pembayaran.
“Kami memahami kekhawatiran ormas dan juru parkir,” jelas Perwakilan Pengelola Mie Gacoan]. “Sebelum menerapkan sistem ini, kami sebenarnya telah melakukan penelitian, tetapi mungkin tidak cukup mendalam dalam melibatkan semua pihak. Kami tidak bermaksud merugikan siapapun, melainkan untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan.”
Pemkot Surabaya Turun Tangan, Mediasi Dimulai
Menyadari potensi konflik yang semakin membesar, Dinas Perhubungan dan Perpajakan Kota Surabaya segera turun tangan untuk melakukan mediasi antara ormas, juru parkir, dan pihak Mie Gacoan. Pertemuan pertama diadakan pada Minggu pagi (27/12/2025) di Kantor Kecamatan yang berwenang, dengan tujuan mencari titik temu yang adil bagi semua pihak.
“Kita tidak boleh biarkan masalah parkir ini berkembang menjadi konflik yang lebih besar,” ujar [Nama Perwakilan Dinas Perhubungan Surabaya]. “Mediasi ini bertujuan untuk mendengar semua suara dan mencari solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan juru parkir, pengelola usaha, dan juga pelanggan.”
Selama mediasi, beberapa opsi solusi diajukan, antara lain:
Sistem Parkir Hybrid: Menggabungkan parkir digital dengan peran juru parkir sebagai penolong dan pengawas, sehingga mereka masih mendapatkan pendapatan.
Pelatihan untuk Juru Parkir: Memberikan pelatihan agar juru parkir dapat mengoperasikan sistem digital dan mendapatkan peran baru di dalamnya.
Pembagian Area Parkir: Membagi area parkir menjadi dua bagian: satu untuk parkir digital dan satu lagi untuk dioperasikan oleh juru parkir konvensional.
Reaksi Masyarakat dan Pelanggan
Reaksi dari masyarakat dan pelanggan terhadap polemik ini beragam. Beberapa mendukung ormas dan juru parkir, menyatakan bahwa mereka layak mendapatkan perlindungan mata pencaharian. Sedangkan yang lain mendukung penerapan parkir digital, mengaku merasa lebih nyaman dan aman dengan sistem yang transparan.
“Saya sering makan di Mie Gacoan sini, dan parkirnya kadang bingung karena tidak jelas tarifnya,” ujar Siti Nurhaliza, seorang pelanggan. “Tetapi saya juga merasa kasihan pada juru parkir yang mungkin kehilangan pekerjaan. Semoga ada solusi yang baik.”
Sementara itu, seorang warga lokal, Rudi Hartono, menambahkan: “Kita harus saling memahami. Ormas berperan melindungi warga, tetapi usaha juga perlu berkembang. Semoga mediasi ini menghasilkan solusi yang memuaskan semua pihak.”
Janji untuk Dialog Berkelanjutan
Setelah pertemuan mediasi pertama, semua pihak sepakat untuk melanjutkan dialog dan mencari solusi yang final dalam waktu satu minggu ke depan. Pihak Mie Gacoan juga sepakat untuk menangguhkan penerapan penuh sistem parkir digital sampai ada kesepakatan.
“Kami bersedia mendengarkan dan berkompromi,” tegas [Nama Perwakilan Pengelola Mie Gacoan]. “Yang terpenting adalah kita bisa menyelesaikan ini dengan damai dan tidak merugikan siapapun.”
Sementara perwakilan ormas juga menambahkan: “Kami akan terus melindungi kepentingan juru parkir, tetapi juga mendukung upaya untuk kemajuan. Dialog adalah kunci untuk menyelesaikan masalah ini.”
Polemik parkir digital di Mie Gacoan Mayjen Sungkono menjadi cerminan tantangan dalam menghadapi kemajuan teknologi sambil tetap mempertimbangkan kepentingan kelompok masyarakat yang rentan. Semua pihak berharap solusi yang dihasilkan dapat menjadi contoh baik untuk kasus serupa di masa depan.
(Hery)
