
MALANG – Pagelaran kesenian tradisional Bontengan dari kelompok Singosari Malang Putro Sumiyoro Batteran menghiasi acara pangra khitanan putra Bpk. Malikin yang digelar pada hari Sabtu (21 Desember 2026) di Desa Sumber Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Acara yang diisi dengan pertunjukan seni khas lokal ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian perayaan khitanan, tetapi juga sebagai sarana untuk melestarikan dan memperkenalkan kebudayaan tradisional kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Kegiatan yang berlangsung meriah di halaman rumah Bpk. Malikin ini dihadiri oleh berbagai pihak pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Polsek Singosari, Koramil setempat, Lurah Desa Sumber Klampok, serta jajaran pengurus masyarakat desa. Kehadiran para tokoh masyarakat tersebut menunjukkan bahwa acara ini tidak hanya memiliki makna pribadi bagi keluarga Bpk. Malikin, tetapi juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga dan memperkuat nilai-nilai budaya lokal.
Ketua kelompok kesenian Bontengan Singosari Malang Putro Sumiyoro Batteran, Bpk. Sa’i, menjelaskan bahwa pertunjukan Bontengan yang mereka bawakan pada acara tersebut merupakan bentuk penghormatan dan doa restu bagi putra Bpk. Malikin yang baru melaksanakan sunat khitan. Menurutnya, kesenian Bontengan memiliki makna filosofis yang dalam dalam budaya masyarakat Malang, di mana setiap gerakan dan irama memiliki pesan tentang kebaikan, kesuksesan, serta kesehatan bagi yang menjalani proses khitanan.
“Kesenian Bontengan adalah salah satu warisan budaya yang telah ada sejak lama di wilayah Singosari. Kami menghadirkan pertunjukan ini bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk doa agar putra Bpk. Malikin dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik, sehat, dan bermanfaat bagi masyarakat. Setiap gerakan tari dan irama gendang yang kami mainkan memiliki makna yang mendalam terkait dengan harapan dan doa restu,” ujar Bpk. Sa’i dalam sambutannya sebelum memulai pertunjukan.
Pertunjukan Bontengan yang diikuti oleh puluhan penari dari kelompok tersebut dimulai sejak pukul 19.00 WIB, di mana para penari mengenakan kostum tradisional yang berwarna-warni dan penuh dengan ornamen khas budaya Jawa. Gerakan tari yang dinamis dan penuh semangat disertai dengan irama gendang yang menggema membuat suasana acara semakin meriah dan penuh kegembiraan. Banyak tamu undangan dan masyarakat sekitar yang datang untuk menyaksikan pertunjukan tersebut, bahkan beberapa anak-anak juga ikut bergembira menyaksikan gerakan tari yang menarik.
Bpk. Malikin, ayah dari putra yang baru khitan, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada kelompok kesenian Bontengan Singosari Malang Putro Sumiyoro Batteran serta seluruh tamu yang telah menghadiri acara tersebut. Menurutnya, menghadirkan kesenian tradisional dalam acara khitanan putranya merupakan bentuk upaya untuk mengenalkan budaya lokal kepada anaknya sejak dini, serta sebagai wujud rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
“Saya sangat bersyukur karena acara pangra khitanan putra saya dapat berjalan dengan lancar dan meriah, terlebih dengan kehadiran pertunjukan kesenian Bontengan yang sangat berarti bagi kami. Saya berharap anak saya nantinya dapat tumbuh dengan mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri, serta dapat menjadi pelestarinya kelak,” ucap Bpk. Malikin dengan penuh emosi.
Perwakilan Polsek Singosari, Bripka H. Suryanto, yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi terhadap upaya masyarakat untuk melestarikan kesenian tradisional melalui acara-acara kemasyarakatan seperti ini. Menurutnya, kesenian tradisional bukan hanya menjadi identitas budaya daerah, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan masyarakat.
“Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini yang tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga melestarikan budaya lokal. Kesenian tradisional memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat dan menjaga nilai-nilai luhur yang ada. Kami berharap bahwa kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkala untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda,” jelas Bripka H. Suryanto.
Selain pertunjukan Bontengan, acara pangra khitanan tersebut juga diisi dengan berbagai kegiatan lainnya seperti doa bersama yang dipimpin oleh ustadz lokal, serta penyajian makanan khas daerah kepada seluruh tamu undangan. Masyarakat sekitar yang datang untuk memberikan ucapan selamat juga turut merasakan kehangatan suasana acara yang penuh dengan rasa kekeluargaan.
Anggota kelompok kesenian Bontengan Singosari Malang Putro Sumiyoro Batteran, Siti Nurhaliza (22 tahun), menyampaikan bahwa mereka merasa sangat bangga dapat berpartisipasi dalam acara ini. Menurutnya, setiap kali mereka tampil dalam acara kemasyarakatan, mereka merasa telah berkontribusi dalam melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur.
“Kami sebagai anggota kelompok kesenian Bontengan merasa memiliki tanggung jawab untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian ini. Setiap pertunjukan yang kami lakukan adalah bentuk cinta kami terhadap budaya daerah. Kami berharap bahwa semakin banyak orang yang dapat menikmati dan mencintai kesenian Bontengan, sehingga ia tidak akan punah dan dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang,” tutup Siti Nurhaliza.
Acara pangra khitanan putra Bpk. Malikin ditutup dengan pemberian cenderamata dari keluarga kepada kelompok kesenian Bontengan serta foto bersama seluruh peserta acara. Suasana yang penuh kegembiraan dan kehangatan menunjukkan bahwa acara ini tidak hanya menjadi momen penting bagi keluarga Bpk. Malikin, tetapi juga menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat istimewa dalam hati masyarakat dan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan budaya di Kabupaten Malang.
(red)
