
Surabaya, 10 Desember 2025 – Menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Polda Jawa Timur (Jatim) tidak hanya meningkatkan keamanan fisik, tetapi juga memperkuat harmoni sosial dan toleransi antar umat beragama melalui program “Operasi Lilin Semeru Berbasis Toleransi”. Program ini mengintegrasikan kolaborasi lintas agama dan budaya, teknologi augmented reality (AR), dan mediasi konflik berbasis komunitas untuk menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan inklusif.
“Keamanan bukan hanya tentang kehadiran polisi, tetapi juga tentang rasa aman dan nyaman yang dirasakan oleh seluruh masyarakat, tanpa memandang agama, suku, atau ras,” tegas Kapolda Jatim, Irjen Pol Drs. Nanang Avianto, M.Si, saat memimpin Apel Satgas Premanisme di Lapangan Mapolda Jatim.
Program “Operasi Lilin Semeru Berbasis Toleransi” meliputi:
Kolaborasi Lintas Agama: Polda Jatim menggandeng tokoh agama dari berbagai agama untuk berpartisipasi dalam patroli keamanan, memberikan ceramah tentang toleransi, dan menyelenggarakan kegiatan sosial bersama. “Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk bersatu dan menjaga keamanan bersama,” ujar Irjen Nanang.
AR Edukasi Anti Kekerasan: Polda Jatim mengembangkan aplikasi augmented reality (AR) yang menyajikan konten edukasi tentang anti kekerasan, toleransi, dan perdamaian. Aplikasi ini dapat diakses melalui smartphone dan digunakan di tempat-tempat umum, seperti pusat perbelanjaan, terminal, dan tempat ibadah. “Dengan AR, kami ingin menyampaikan pesan-pesan positif dengan cara yang menarik dan interaktif, terutama kepada generasi muda,” jelas Irjen Nanang.
Mediasi Komunitas: Polda Jatim membentuk tim mediasi konflik berbasis komunitas yang terdiri dari tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Tim ini bertugas menyelesaikan konflik-konflik kecil di masyarakat secara damai dan musyawarah. “Kami percaya bahwa dengan melibatkan masyarakat dalam penyelesaian konflik, kita bisa mencegah eskalasi kekerasan,” ujar Irjen Nanang.
Patroli Dialogis: Anggota kepolisian melakukan patroli dialogis dengan masyarakat, berinteraksi secara langsung, mendengarkan keluhan, dan memberikan solusi. “Kami ingin membangun hubungan yang lebih dekat dan harmonis antara polisi dan masyarakat,” jelas Irjen Nanang.
Satgas Premanisme tetap fokus pada penindakan tegas terhadap segala bentuk premanisme, dengan tujuh sasaran utama:
Pemerasan & pemalakan di pasar, terminal, serta ruang publik.
Debt collector ilegal yang menagih dengan intimidasi dan kekerasan.
Pungli yang menghambat ekonomi masyarakat.
Preman penganiayaan yang beraksi secara individual.
Preman pengeroyokan berbasis kelompok.
Kekerasan oknum perguruan silat, termasuk fanatisme negatif yang berujung kriminal.
Gangster jalanan yang membawa sajam dan memicu tawuran.
Irjen Nanang berharap, program “Operasi Lilin Semeru Berbasis Toleransi” dapat menciptakan suasana Nataru yang aman, damai, dan penuh berkah bagi seluruh masyarakat Jawa Timur. “Mari kita rayakan perbedaan sebagai kekayaan, dan bersama-sama menjaga Jatim tetap aman, damai, dan sejahtera!” pungkasnya.
(Bew/Faiz)
