
Surabaya, 12 Mei 2026 – Anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Tri Didik Adiono atau yang lebih akrab disapa Didik Beldex, turun langsung ke lokasi kejadian di kawasan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan, Surabaya, Senin (12/5/2026). Kunjungan ini dilakukan guna meninjau kondisi para korban pasca insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa usai mengonsumsi menu dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pertemuannya dengan para korban dan keluarga, Didik menyerap langsung berbagai keluhan serta dampak yang dirasakan masyarakat, mulai dari masalah kesehatan hingga dampak psikologis berupa rasa trauma yang mendalam.
Didik mengaku sangat prihatin mendengar dan melihat langsung apa yang dialami warga Tembok Dukuh pasca kejadian tersebut. Menurut keterangan yang ia himpun dari percakapan langsung dengan para orang tua dan siswa korban, dampak insiden ini ternyata tidak hanya berhenti pada gangguan kesehatan fisik semata. Lebih dari itu, kejadian ini meninggalkan bekas luka batin yang cukup besar, sehingga banyak anak-anak dan keluarga mereka kini merasa takut dan menolak untuk kembali menerima layanan makanan dari program MBG.
“Saat saya tanyakan langsung kepada korban dan keluarganya, banyak yang mengaku trauma dan menolak untuk menerima MBG lagi. Mereka khawatir kejadian yang sama terulang kembali dan membahayakan kesehatan anak-anak mereka. Ini menjadi sinyal keras bagi kita semua bahwa ada sesuatu yang harus segera diperbaiki,” ungkap Didik Beldex usai melakukan kunjungan dan dialog dengan warga.
Politisi yang dikenal aktif menyuarakan aspirasi warga ini menegaskan, secara tujuan dan konsep dasar, program Makanan Bergizi Gratis merupakan langkah yang sangat baik, mulia, dan strategis. Program ini dirancang dengan tujuan utama untuk meningkatkan asupan gizi dan kesehatan masyarakat, khususnya bagi anak-anak usia sekolah yang sedang dalam masa pertumbuhan. Pemerintah telah berniat besar untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan berkualitas guna mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.
Namun, di sisi lain, Didik menilai pelaksanaan program di lapangan masih jauh dari kata sempurna dan belum berjalan secara maksimal. Masih terdapat celah kelemahan dalam manajemen, standar operasional, maupun pengawasan yang akhirnya memunculkan persoalan serius seperti insiden keracunan massal yang menimpa siswa di 12 sekolah kawasan Tembok Dukuh ini. Menurutnya, niat baik yang besar tidak akan berarti apa-apa jika pelaksanaannya justru mendatangkan mudarat dan menimbulkan korban.
“Program ini baik untuk masyarakat, sangat mulia tujuannya. Tetapi pelaksanaannya yang harus dievaluasi secara menyeluruh, dari hulu ke hilir. Jangan sampai niat baik yang bertujuan menyehatkan masyarakat justru berbalik menimbulkan korban, membuat anak-anak sakit, dan membuat masyarakat menjadi takut serta tidak percaya lagi,” tegas Didik dengan nada tegas.
Merespons kejadian ini, Didik meminta kepada seluruh pihak terkait, mulai dari pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Dinas terkait, hingga Badan Gizi Nasional, untuk segera memperketat pengawasan di setiap tahapan proses penyediaan makanan. Pengawasan tidak boleh hanya dilakukan di satu titik saja, melainkan harus menyeluruh mencakup proses pemilihan bahan baku, cara pengolahan yang higienis, penyimpanan yang tepat, hingga proses pendistribusian dan penyajian ke tangan penerima manfaat. Kualitas, keamanan, dan kebersihan pangan harus menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
“Harus ada standar yang ketat dan pengawasan yang jeli. Jangan sampai ada kelalaian sedikit pun. Makanan yang diberikan harus terjamin kebersihannya, layak konsumsi, dan bergizi sebagaimana tujuan program ini dibuat. Jika perlu, petugas pengawas harus turun langsung dan melakukan pengecekan rutin secara mendadak agar standar yang ditetapkan benar-benar berjalan,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Didik Beldex berharap insiden keracunan di Tembok Dukuh ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan MBG. Ia mendesak adanya evaluasi menyeluruh dan perbaikan sistem yang nyata, agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di wilayah Kota Surabaya maupun daerah lainnya. Kepercayaan masyarakat terhadap program pemerintah harus dikembalikan, dan keamanan anak-anak penerima manfaat harus dijamin sepenuhnya.
“Kami berharap evaluasi ini dilakukan secara serius dan tuntas. Jangan biarkan trauma ini melekat lama di hati masyarakat. Pastikan kejadian ini menjadi yang terakhir kalinya, dan ke depannya program MBG benar-benar berjalan aman, nyaman, dan bermanfaat luas bagi warga Surabaya,” pungkas Didik.
