IJTI Banyuwangi Gelar MUSKORDA II: Dandim 0825/Banyuwangi Jadi Garda Terdepan Penguatan Etika Jurnalistik di Era Disrupsi

Nasional

Banyuwangi, 6 Desember 2025 – Di tengah hiruk pikuk informasi digital yang tak terkendali, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Banyuwangi menggelar MUSKORDA II dengan tajuk “Membangun Peradaban Positif di Era Digital: Memahami Kerja dan Etika Jurnalisme Profesional”. Acara yang berlangsung di Hotel Santika Banyuwangi ini bukan sekadar forum seremonial, melainkan momentum krusial untuk merumuskan strategi jitu dalam menghadapi tantangan disrupsi digital yang mengancam kualitas jurnalisme.

Sorotan utama tertuju pada kehadiran Dandim 0825/Banyuwangi, Letkol Arm Triyadi Indrawijaya. Kehadirannya bukan sekadar simbolis, melainkan wujud komitmen nyata TNI dalam mendukung penguatan etika jurnalistik di tengah derasnya arus informasi yang seringkali bias dan menyesatkan.

Dandim 0825/Banyuwangi: Jurnalis Garda Terdepan Penjaga Kebenaran

Dalam sambutannya, Letkol Arm Triyadi Indrawijaya menegaskan bahwa jurnalis memiliki peran sentral sebagai penjaga kebenaran dan penyeimbang informasi di era digital. Ia mengajak seluruh jurnalis untuk tidak hanya berfokus pada kecepatan penyampaian berita, tetapi juga mengedepankan akurasi, verifikasi, dan keberimbangan informasi.

“Di era digital ini, informasi palsu dan hoaks menyebar dengan sangat cepat. Jurnalis harus menjadi garda terdepan dalam melawan disinformasi dan memberikan informasi yang benar kepada masyarakat,” tegasnya.

FGD: Membedah Tantangan dan Merumuskan Solusi

FGD yang menjadi bagian inti dari MUSKORDA II ini menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, termasuk Dewan Pers, Kapolresta Banyuwangi, dan tokoh-tokoh media terkemuka. Para peserta diajak untuk berdiskusi secara mendalam mengenai berbagai tantangan yang dihadapi jurnalis di era digital, seperti:

Disrupsi teknologi: Munculnya platform media sosial dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap media secara drastis. Jurnalis harus mampu beradaptasi dengan teknologi baru tanpa mengorbankan etika dan kualitas jurnalistik.

Hoaks dan disinformasi: Penyebaran informasi palsu dan hoaks menjadi ancaman serius bagi kredibilitas media. Jurnalis harus memiliki kemampuan untuk memverifikasi informasi dan melawan disinformasi.

Tekanan ekonomi: Industri media menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar akibat persaingan dengan platform digital. Jurnalis harus mampu menghasilkan konten berkualitas tinggi yang mampu menarik perhatian pembaca dan pengiklan.

    IJTI Banyuwangi: Komitmen untuk Jurnalisme Berkualitas

    Ketua IJTI, Herik Kurniawan, menegaskan bahwa IJTI Banyuwangi berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas jurnalisme di daerah tersebut. Ia mengajak seluruh anggota IJTI untuk menjunjung tinggi etika jurnalistik, meningkatkan kompetensi, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk membangun peradaban positif di era digital.

    “Kami akan terus berupaya untuk melahirkan jurnalis yang independen, profesional, dan mampu menjaga kualitas literasi publik di tengah derasnya disrupsi digital,” ujarnya.

    MUSKORDA II: Momentum Pemilihan Nahkoda Baru

    MUSKORDA II IJTI Banyuwangi juga menjadi momentum penting dalam pemilihan Ketua IJTI Korda Banyuwangi periode berikutnya. Syamsul Arifin alias Bono disebut-sebut sebagai kandidat terkuat yang akan memimpin IJTI Banyuwangi ke arah yang lebih baik.

    Harapan untuk Jurnalisme yang Lebih Baik

    Melalui MUSKORDA II ini, IJTI Banyuwangi berharap dapat menghasilkan rumusan-rumusan strategis yang mampu menjawab tantangan disrupsi digital dan memperkuat peran jurnalis sebagai pilar utama demokrasi. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, Dewan Pers, dan pemerintah daerah, diharapkan Banyuwangi mampu menjadi contoh dalam menjaga kualitas dan integritas jurnalisme di era digital yang penuh tantangan ini.

    (red)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    error: Content is protected !!