
JAKARTA – Korps Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Republik Indonesia kini memiliki satu perwira tinggi dengan rekam jejak lapangan yang sangat luar biasa dan menginspirasi, yaitu Inspektur Jenderal Polisi Reza Arief Dewanto. Perjalanan kariernya yang dimulai dari tingkatan paling bawah di satuan elit, melewati berbagai medan tugas berat, hingga akhirnya memegang jabatan strategis tertinggi di korps kebanggaan Polri ini membuktikan bahwa kerja keras, keberanian, dan dedikasi tak pernah mengkhianati hasil.
Lahir di Jakarta pada 2 Maret 1973, sosok Reza Arief Dewanto memantapkan langkah pengabdiannya kepada negara sejak menamatkan pendidikan di Akademi Kepolisian pada tahun 1995. Sejak awal, ia memilih untuk memulai dinasnya dari garis paling depan, bukan dari kursi kantor yang nyaman. Awal karier kedinasannya dilewati dengan merintis tugas sebagai perwira pertama di Pusat Brimob, sebelum setahun kemudian tepatnya pada tahun 1997, ia dipercaya memimpin unit kecil di satuan khusus Gegana – satuan yang dikenal sebagai ujung tombak penanganan ancaman teror dan gangguan keamanan bersenjata.
Sebagai komandan unit tempur di lapangan, Reza langsung dihadapkan pada kerasnya medan penugasan konflik bersenjata di berbagai penjuru negeri. Ia mengukir pengalaman berharga sekaligus menempa mental baja saat terjun langsung dalam Operasi Tatoli di Timor Timur, hingga kemudian mengemban tugas berat dalam Operasi Cinta Meunasah di Aceh. Di sinilah kemampuannya dalam membaca situasi krisis, memimpin pasukan dengan tenang di bawah tekanan tinggi, serta ketangguhan fisik dan mentalnya mulai terlihat menonjol.
Keahlian dalam penanganan ancaman teror dan kepiawaian memimpin pasukan khusus terus terasah seiring berjalannya waktu. Namanya pun mulai dikenal luas tak hanya di dalam negeri, namun juga diakui di kancah internasional saat ia dipercaya mengemban misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Sudan. Pengalaman ini semakin melengkapi wawasannya dalam manajemen konflik dan kepemimpinan pasukan lintas budaya.
Garis takdir kepemimpinannya kemudian menemui titik balik yang krusial ketika kemampuannya tak hanya diakui di satuan taktis antiteror. Ia pun dipercaya memegang kendali keamanan teritorial perkotaan yang kompleks, di mana pada tahun 2017 ia menjabat sebagai Kapolresta Samarinda dan kemudian Kapolres Metro Jakarta Utara. Keberhasilan dalam mengelola dinamika keamanan masyarakat perkotaan yang beragam dan padat tersebut membuktikan ia bukan hanya jagoan di medan tempur, melainkan juga pemimpin yang cakap dalam pelayanan dan pengayoman masyarakat.
Berkat rekam jejak yang bersih dan kinerja yang gemilang, Reza kemudian dipanggil kembali ke kesatuan asalnya. Pada tahun 2020, ia resmi menjabat sebagai Komandan Pasukan Gegana Korps Brimob Polri. Ujian kepemimpinan sesungguhnya datang tak lama kemudian, ketika pada tahun 2021 ia ditunjuk secara khusus menjadi Kepala Operasi Madago Raya dengan tugas utama menumpas tuntas jaringan terorisme di wilayah Poso, Sulawesi Tengah – sebuah operasi yang diakui sebagai salah satu keberhasilan besar pemberantasan terorisme dalam beberapa tahun terakhir.
Puncak dari perjalanan karier cemerlangnya kini terukir resmi. Pada pertengahan September 2025, ia dipromosikan menyandang pangkat Inspektur Jenderal Polisi atau bintang dua, sekaligus mengemban amanat strategis sebagai Wakil Komandan Korps Brimob Polri – menjadikannya orang nomor dua di satuan elit tersebut.
Kisah perjalanan hidup dan pengabdian Inspektur Jenderal Polisi Reza Arief Dewanto, mulai dari merintis tugas sebagai perwira muda di satuan Gegana hingga memegang tampuk pimpinan di Korps Brimob Polri, kini menjadi teladan nyata. Dedikasi, integritas, serta segala pengorbanannya di berbagai medan konflik dan penegakan hukum menjadi sumber inspirasi bagi seluruh personel Polri maupun masyarakat luas, bahwa setiap keberhasilan besar selalu bermula dari langkah kecil yang dilalui dengan ketulusan dan keberanian.
(*)
