
Surabaya,Kisah seorang mahasiswi berprestasi di Kota Surabaya yang terpaksa melakukan tindakan mencuri karena terdesak kondisi ekonomi untuk membayar biaya indekos telah menuai simpati luas dari publik dan kembali menyoroti tantangan berat yang dihadapi oleh banyak mahasiswa berprestasi akibat tekanan ekonomi. Peristiwa ini berakhir dengan penerapan keadilan restoratif oleh Kapolrestabes Surabaya Kombespol Luthfie Sulistiawan, bahkan dengan kesediaannya untuk membantu membayar biaya indekos sang mahasiswi setelah melihat latar belakang kondisi keluarga yang tidak mampu.
Kasus ini terungkap setelah korban, seorang pengusaha kecil di wilayah Kecamatan Wonocolo, melaporkan adanya kehilangan barang berharga bernilai sekitar Rp 5 juta dari tempat kerjanya. Setelah melakukan penyelidikan mendalam, tim penyidik Polrestabes Surabaya berhasil mengidentifikasi pelaku sebagai mahasiswi semester 5 salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Surabaya, yang dikenal memiliki prestasi akademik gemilang dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,85.
Setelah dibawa ke Mapolrestabes Surabaya untuk melakukan pemeriksaan, sang mahasiswi dengan jujur mengaku telah melakukan tindakan yang salah karena terpaksa oleh kondisi ekonomi yang sangat sulit. Saat bertemu langsung dengan Kapolrestabes Luthfie Sulistiawan, didampingi oleh sang ibu yang datang langsung dari kampung halaman di Kabupaten Sidoarjo, tangis penyesalan pecah tak terkendali dari sang mahasiswi. “Saya sungguh menyesal dengan apa yang saya lakukan. Saya tidak punya pilihan lain karena saya tidak ingin mengganggu orang tua saya yang sudah bekerja sangat keras untuk menyekolahkan saya,” ujarnya dengan suara gemetar di depan Kapolrestabes.
Dalam video yang kemudian diunggah oleh Kombespol Luthfie Sulistiawan melalui akun Instagram pribadinya, sang mahasiswi menjelaskan secara rinci latar belakang kondisi keluarga yang menjadi penyebabnya terjebak dalam kesulitan ekonomi. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan harian yang tidak tetap, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan tambahan. Meskipun telah mendapatkan beasiswa untuk biaya kuliah, ia tetap harus mencari cara sendiri untuk membayar biaya indekos, makan, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
“Selama ini, saya bertahan hidup hanya dengan uang saku Rp 200 ribu dalam sebulan. Uang itu saya dapatkan dari hasil les privat yang saya lakukan untuk beberapa siswa SMA di sekitar tempat saya menginap, tapi kadang-kadang les tersebut tidak stabil karena ada bulan di mana siswa tidak bisa mengikuti les,” jelasnya dalam video tersebut. Saat ditanya oleh Kapolrestabes Luthfie bagaimana cara bertahan hidup dengan uang yang sangat terbatas itu, sang mahasiswi menjawab bahwa ia selalu memasak sendiri makanan sehari-hari, biasanya nasi dengan lauk sederhana seperti telur dadar atau mie instan yang dibeli dengan harga murah. Kadang kala, ia bahkan harus mengurangi porsi makan agar uang yang dimiliki dapat bertahan hingga akhir bulan.
Setelah mendengar penjelasan dan melihat kondisi yang dihadapi oleh sang mahasiswi, Kapolrestabes Luthfie Sulistiawan memutuskan untuk menerapkan keadilan restoratif dalam kasus ini. Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan latar belakang prestasi akademik yang baik, niat yang tidak jahat, serta kondisi ekonomi yang menjadi faktor pendorong tindakan tersebut. Pihak kepolisian kemudian menghubungi korban untuk menyampaikan kondisi sang pelaku, dan dengan senang hati korban menyetujui untuk berdamai serta tidak melanjutkan proses hukum terhadap mahasiswi tersebut.
“Keadilan tidak selalu harus melalui proses pengadilan yang panjang. Dalam kasus ini, kita melihat bahwa pelaku adalah seorang anak muda yang memiliki masa depan cerah, namun terjebak dalam kesulitan ekonomi yang luar biasa. Melalui keadilan restoratif, kita tidak hanya memberikan kesempatan kepada pelaku untuk memperbaiki diri, tetapi juga membantu menyelesaikan akar masalah yang menyebabkan tindakan tersebut,” ujar Kombespol Luthfie Sulistiawan dalam jumpa pers yang digelar setelah kasus ini diselesaikan.
Lebih jauh, Kapolrestabes juga menyatakan kesediaannya secara pribadi untuk membantu membayar biaya indekos sang mahasiswi selama satu tahun ke depan, sebagai bentuk dukungan agar ia dapat fokus pada studi dan tidak lagi terpaksa melakukan tindakan yang salah. Selain itu, pihak Polrestabes Surabaya juga akan bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi tempat mahasiswi tersebut belajar untuk mencari bantuan tambahan berupa beasiswa hidup atau pekerjaan paruh waktu yang sesuai dengan jadwal kuliahnya.
Kisah ini segera menyebar luas di media sosial dan mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Banyak pihak yang mengapresiasi langkah yang diambil oleh Kapolrestabes Luthfie Sulistiawan, yang dianggap tidak hanya menjaga ketertiban hukum tetapi juga menunjukkan rasa kepedulian terhadap masalah sosial yang dihadapi oleh anak muda berprestasi. Beberapa komunitas dan individu juga telah menyatakan kesediaannya untuk memberikan bantuan tambahan kepada sang mahasiswi, mulai dari bantuan kebutuhan sehari-hari hingga beasiswa pendidikan tambahan.
Kepala Jurusan tempat mahasiswi tersebut belajar, Bapak Profesor Suyanto, menyampaikan bahwa pihak perguruan tinggi akan memberikan dukungan penuh untuk memastikan bahwa mahasiswi tersebut dapat melanjutkan studi dengan baik. “Kita sangat prihatin dengan apa yang terjadi, namun juga bangga dengan kesetiaan anak kita untuk tetap berjuang mengejar pendidikan meskipun dengan kondisi yang sangat sulit. Pihak kampus akan mengevaluasi kembali sistem beasiswa dan bantuan keuangan yang ada agar tidak ada lagi mahasiswa berprestasi yang mengalami kesulitan seperti ini,” jelasnya.
Peristiwa ini kembali mengangkat permukaan persoalan beratnya tekanan ekonomi yang masih menghantui banyak mahasiswa berprestasi di Kota Surabaya dan seluruh Indonesia. Meskipun telah ada berbagai program bantuan dari pemerintah dan pihak swasta, masih banyak mahasiswa yang tidak dapat mengakses bantuan tersebut atau bantuan yang diterima tidak cukup untuk menutupi semua kebutuhan mereka. Banyak pihak berharap bahwa kasus ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah dan berbagai pihak terkait untuk memperkuat dukungan terhadap mahasiswa berprestasi dari kalangan ekonomi lemah, sehingga mereka dapat fokus pada pendidikan dan berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa.
Saat ini, sang mahasiswi telah kembali menjalankan aktivitas kuliahnya dan mulai menerima bantuan yang telah disediakan. Ia menjanjikan bahwa akan menggunakan kesempatan kedua ini dengan sebaik-baiknya, serta berjanji untuk tidak lagi melakukan tindakan yang salah dan akan berusaha memberikan kontribusi bagi masyarakat setelah menyelesaikan pendidikannya.
(red)
