
(Surabaya, 26 Januari 2026) – Sebuah rekaman video yang diunggah oleh seorang warga mendadak viral dan menyulut kemarahan publik setelah memperlihatkan dugaan praktik pungutan liar (pungli) serta perlakuan tebang pilih oleh oknum petugas polisi di Jalan Ahmad Yani arah Kebun Binatang Surabaya. Fenomena yang terjadi membuat banyak orang menggeleng-geleng kepala, dengan pertanyaan: “Katanya penegak hukum, kok malah pilih kasih?”
Pengunggah video mengaku dirinya sedang ditilang karena salah memasuki jalur yang dilarang bagi sepeda motor. Namun, situasi menjadi panas ketika ia menyaksikan seorang pengendara wanita yang melakukan pelanggaran lebih berat justru dilepas begitu saja tanpa mendapatkan surat tilang atau proses hukum apapun.
Dalam rekaman video dan narasi yang disampaikan pengunggah, terlihat jelas bahwa pengendara wanita tersebut tidak hanya tidak menggunakan spion kendaraan, tetapi juga tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sama sekali. Meski telah terbukti melakukan pelanggaran lebih dari satu poin, oknum petugas diduga membebaskannya setelah terjadi interaksi yang dianggap mencurigakan oleh warga yang merekam.
Ketika warga tersebut mempertanyakan keadilan penindakan di lokasi tersebut, awalnya petugas berdalih bahwa SIM pengendara wanita telah ditilang pada kesempatan sebelumnya. Namun, pernyataan itu kemudian berubah ketika akhirnya diakui bahwa yang bersangkutan memang tidak memiliki SIM sama sekali sejak awal.
Kecurigaan masyarakat semakin menguat ketika Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) milik pengendara wanita tersebut terlihat dikembalikan langsung dari tangan petugas, setelah itu ia diperbolehkan melanjutkan perjalanan tanpa harus menjalani proses hukum apa pun – berbeda dengan nasib pengunggah video yang harus menerima tilang karena pelanggaran yang dianggap lebih ringan.
Dalam keterangannya, perekam video menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan bukanlah untuk menyerang institusi kepolisian secara keseluruhan. “Saya hanya ingin mengajukan protes atas ketidakadilan yang seringkali dirasakan oleh masyarakat kecil di lapangan. Kepolisian seharusnya menjadi pelindung keadilan, bukan malah membuat rakyat merasa dirugikan karena perlakuan tidak sama,” ujarnya melalui unggahannya.
Ia berharap pimpinan kepolisian segera turun tangan untuk melakukan penyelidikan mendalam dan menindak tegas oknum yang terlibat dalam kasus ini. Tujuannya adalah agar praktik tebang pilih dan dugaan pungli tidak terus mencederai citra serta kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum yang seharusnya bekerja profesional dan adil.
Hingga saat ini, video tersebut terus menyebar luas di berbagai platform media sosial dan menuai reaksi keras dari warganet. Banyak pihak yang menuntut transparansi dalam penanganan kasus ini, serta penegakan hukum yang benar-benar adil tanpa pandang bulu terhadap siapapun.
(*)
