
Maros, Sulawesi Selatan – Pencarian terhadap pesawat Indonesia Air Transport (IAT) tipe ATR 42-500 yang hilang kontak pada hari Kamis (15/1/2026) sekitar pukul 13.30 WIB saat melintas di wilayah pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros, terus digencarkan oleh tim gabungan yang terdiri dari berbagai institusi terkait. Hingga hari Senin (19/1/2026), operasi pencarian telah memasuki hari kelima dengan berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari kondisi cuaca yang tidak mendukung hingga topografi wilayah yang sangat sulit dijangkau.
Kegiatan pencarian yang dipimpin oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) bersama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kementerian Perhubungan, serta berbagai pihak terkait lainnya, telah mengerahkan lebih dari 2.000 personel yang terdistribusi di beberapa titik operasi. Selain itu, juga digunakan berbagai sarana pendukung seperti helikopter Caracal milik TNI AU, kendaraan lapangan khusus, serta alat deteksi yang modern untuk membantu menemukan jejak pesawat dan korban.
Kepala Basarnas Sulsel, Letkol Laut (P) Ahmad Fauzi, menyampaikan bahwa pada hari Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, helikopter Caracal yang melakukan patroli udara berhasil mendeteksi titik panas dan puing-puing yang diduga berasal dari pesawat yang hilang kontak di lereng Gunung Bawakaraeng, salah satu bagian dari Pegunungan Bulusaraung. Namun, kondisi cuaca yang buruk dengan hujan lebat dan kabut tebal serta lereng curam yang ditumbuhi semak belukar lebat membuat upaya pendekatan darat maupun udara menjadi sangat sulit.
“Kita telah menemukan indikasi kuat lokasi jatuhnya pesawat, namun akses ke lokasi tersebut menjadi tantangan utama. Cuaca yang tidak stabil membuat operasi udara sering harus dihentikan sementara, sedangkan jalur darat yang harus ditempuh membutuhkan waktu berjam-jam bahkan hingga berhari-hari dengan medan yang sangat berat,” ujar Ahmad Fauzi dalam konferensi pers yang digelar di Markas Operasi Pencarian di Kabupaten Maros.
Selain itu, Polda Sulsel juga telah membentuk Tim Identifikasi Korban (DVI) yang terdiri dari ahli forensik dan dokter untuk mempersiapkan proses identifikasi korban segera setelah lokasi jatuhnya pesawat berhasil dijangkau secara penuh. Kapolres Maros, Kombes Pol Dedi Priyatno, menyampaikan bahwa pihaknya juga telah mengerahkan personel dari Satuan Brimob dan Satuan Mobilan Patroli (Samapta) untuk melakukan pengamanan di sekitar area pencarian serta membantu evakuasi jika diperlukan.
“Kita juga telah menghubungi keluarga korban yang tercatat sebanyak 18 orang, termasuk tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dari Pusat Survei dan Data Kelautan Perikanan (PSDKP) Makassar. Saat ini, keluarga korban sedang dalam pengawasan tim konselor yang telah disiapkan untuk memberikan dukungan psikologis dan bantuan lainnya,” jelas Dedi Priyatno.
Pada hari Minggu (18/1/2026), tim gabungan yang melakukan pendekatan darat melalui jalur dari Desa Bantimurung berhasil mencapai area sekitar lokasi yang diduga jatuhnya pesawat. Namun, kondisi medan yang sangat curam dan lereng yang licin akibat hujan membuat mereka harus berhati-hati dan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai titik tepat. Saat itu, tim berhasil menemukan beberapa benda yang diduga merupakan bagian dari pesawat seperti bagian sayap, kursi penumpang, serta barang bawaan penumpang.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan Sulawesi Selatan, Irwan Syahputra, menyampaikan bahwa Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengirimkan tim penyelidikan khusus untuk melakukan investigasi awal segera setelah lokasi jatuhnya pesawat dapat diakses secara penuh. Tujuan dari penyelidikan ini adalah untuk mengetahui penyebab utama kecelakaan yang terjadi serta mengambil langkah-langkah preventif agar tidak terjadi kejadian serupa di masa depan.
“KNKT telah siap melakukan penyelidikan mendalam terkait insiden ini. Kita akan mengumpulkan semua bukti fisik serta data dari black box pesawat jika berhasil ditemukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum pesawat hilang kontak,” ujar Irwan Syahputra.
Di sisi lain, masyarakat sekitar juga turut berkontribusi dalam upaya pencarian dengan memberikan informasi serta membantu menyediakan makanan dan tempat istirahat bagi personel pencarian. Beberapa warga dari desa-desa sekitar bahkan bersedia menjadi pemandu lokal untuk membantu tim pencarian menemukan jalur yang lebih aman dan cepat menuju lokasi tujuan.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, yang telah beberapa kali melakukan kunjungan ke lokasi operasi pencarian, menyampaikan dukungan penuh dari pemerintah provinsi terhadap seluruh upaya yang dilakukan oleh tim gabungan. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan memberikan ruang bagi pihak berwenang untuk melakukan tugasnya dengan maksimal.
“Kita semua berdoa agar proses pencarian dapat berjalan dengan lancar dan korban dapat segera ditemukan untuk memberikan keadilan bagi keluarga mereka. Pemerintah provinsi akan terus memberikan dukungan dalam bentuk apapun yang dibutuhkan oleh tim pencarian,” ucap Andi Sudirman.
Hingga saat ini, operasi pencarian masih terus berlanjut dengan semangat yang tinggi dari seluruh personel yang terlibat. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, namun komitmen untuk menemukan pesawat dan korban serta mengungkap kebenaran di balik insiden ini tetap menjadi prioritas utama bagi semua pihak. Semoga dengan kerja sama yang erat dan doa dari seluruh masyarakat Indonesia, upaya pencarian dapat segera mencapai hasil yang diharapkan.
(red)
