“Edy Macan: Surabaya Jangan Terprovokasi! Kita Butuh Persatuan, Bukan Adu Domba dan Penghinaan Suku!”

Nasional

Surabaya – Di tengah riuhnya berbagai aksi dan pernyataan yang mengatasnamakan pembelaan rakyat, tokoh masyarakat Surabaya, Edy Macan, tampil menyejukkan. Ia mengimbau seluruh warga Kota Pahlawan untuk tidak mudah terprovokasi, tetap menjaga persatuan, dan menjunjung tinggi kondusivitas Surabaya yang selama ini telah terjaga.

Edy Macan mengungkapkan keprihatinannya terhadap aksi-aksi yang seolah-olah membela rakyat, namun pada kenyataannya belum jelas tujuan dan substansinya. Ia khawatir kondisi ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah persaudaraan antarwarga.

“Masyarakat Surabaya sudah mulai jenuh dengan aksi-aksi yang belum jelas arahnya. Jangan sampai kita terpecah belah karena provokasi,” tegas Edy Macan dengan nada prihatin. “Warga negara Indonesia harus saling menghargai perbedaan suku dan ras, khususnya di Kota Pahlawan ini. Surabaya harus kita jaga bersama sebagai rumah kita.”

Kritik Pedas Terhadap Tantangan Adu Fisik dan Penghinaan Suku

Edy Macan juga menyoroti keras adanya tindakan provokatif berupa tantangan adu fisik yang dikaitkan dengan isu organisasi maupun suku. Ia menilai tindakan tersebut sangat tidak pantas, tidak beradab, dan bertentangan dengan prinsip negara hukum yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan.

“Apakah dibenarkan menantang-nantang orang? Ini negara hukum, semua ada prosesnya,” ujar Edy Macan dengan nada geram. “Jangan seenaknya menghina, apalagi membawa-bawa suku. Kita ini Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Jangan rusak persatuan kita hanya karena emosi sesaat.”

Secara khusus, Edy Macan menanggapi tantangan dari seseorang bernama ANS yang mengaku sebagai petinju profesional. “Untuk saudara ANS yang mengaku boxing profesional, saya terbuka. Ayo saya beli kalau dijual, jangan jadi provokator. Kamu asli Surabaya ta? Kok sok-sokan gitu. Tidak bisa ta keahlianmu itu untuk tidak menantang orang?” tantang Edy Macan balik dengan nada tegas.

Ia menambahkan bahwa kritik terhadap organisasi merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh undang-undang. Namun, penghinaan terhadap suku, ras, agama, atau kelompok tertentu tidak dapat dibenarkan dan harus ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku.

“Silakan kritik ormas, tapi jangan menghina suku. Boleh menyampaikan aspirasi, tapi jangan merusak dan jangan bertindak sewenang-wenang,” lanjutnya. “Jika ada pihak yang tidak sepakat dengan suatu organisasi, seharusnya ditempuh melalui jalur hukum yang berlaku, bukan dengan cara-cara yang anarkis dan provokatif.”

Seruan Kepada Pemkot dan Kepolisian: Bertindak Tegas, Berikan Kepastian Hukum

Sebagai warga Surabaya yang peduli terhadap ketertiban dan keamanan kotanya, Edy Macan mengingatkan bahwa Kota Pahlawan adalah milik bersama yang harus dijaga dengan sepenuh hati. Ia meminta Pemerintah Kota Surabaya agar segera mengambil langkah tegas untuk menyelesaikan kegaduhan yang terjadi agar tidak menimbulkan keresahan yang berkepanjangan di tengah masyarakat.

“Saya berharap Pemkot Surabaya segera turun tangan. Jangan biarkan kegaduhan ini terus berlarut-larut,” tegas Edy Macan. “Kita butuh tindakan nyata, bukan hanya janji-janji manis.”

Selain itu, Edy Macan menekankan pentingnya peran aparat kepolisian dalam memberikan kepastian hukum kepada masyarakat. Ia berharap proses penyelidikan dapat segera dituntaskan secara transparan, akuntabel, dan profesional sehingga masyarakat merasa puas dan percaya terhadap pelayanan Polri.

“Masyakat kusus nya Warga Surabaya butuh kejelasan. Proses hukum harus berjalan dan hasilnya disampaikan secara tegas agar situasi tetap kondusif,” pungkasnya. “Kita butuh kepastian hukum, bukan ketidakpastian yang membuat masyarakat semakin resah.”

Ajakan Persatuan dan Kebersamaan: Surabaya Milik Kita Semua!

Di akhir pernyataannya, Edy Macan kembali mengajak seluruh warga Surabaya untuk bersatu padu menjaga Kota Pahlawan dari segala bentuk provokasi dan perpecahan. Ia mengingatkan bahwa Surabaya adalah kota yang majemuk, di mana berbagai suku, ras, agama, dan budaya hidup berdampingan secara harmonis.

“Surabaya ini milik kita semua. Mari kita jaga bersama, kita rawat bersama, kita bangun bersama menuju kota yang lebih baik,” ajak Edy Macan dengan penuh semangat. “Jangan biarkan provokasi dan adu domba merusak persatuan dan kebersamaan kita.”

Dengan persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong, Edy Macan yakin Surabaya akan mampu mengatasi segala tantangan dan menjadi kota yang semakin maju, aman, dan sejahtera bagi seluruh warganya.

(red/Hery)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!