
(Jakarta, 26 Januari 2026) – Fenomena munculnya warung bernama Kopi Pangku PIK menjadi perbincangan hangat di kalangan warganet setelah sejumlah video yang menampilkan kondisi di dalam kedai tersebut viral di platform Instagram dan TikTok. Perhatian publik tidak hanya tertuju pada praktik pengunjung yang memangku pramusaji saat menikmati makanan, tetapi lebih pada keberadaan menu khusus yang dicantumkan dalam kolom “Paket Enak-Enak”, yang secara terang-terangan menyajikan daftar harga untuk layanan interaksi dengan pramusaji.
Dalam video yang menyebar luas, terlihat jelas sebuah lembaran daftar menu yang ditempelkan di atas meja kayu sederhana. Pada bagian menu utama, harga yang tertera tergolong wajar dan sesuai dengan standar kedai makan biasa, seperti mi goreng dengan harga Rp 12 ribu, mi kuah telur Rp 15 ribu, serta berbagai jenis camilan dengan kisaran harga antara Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.
Namun, fokus perhatian warganet justru teralihkan ke bagian sebelah kanan lembaran menu yang bertuliskan “Paket Enak-Enak”. Di kolom tersebut terdapat tiga tingkatan paket layanan yang menggunakan istilah cukup vulgar, dengan rentang harga yang membuat banyak orang menggeleng-geleng kepala.
Paket pertama adalah “Reguler” yang dipatok dengan harga Rp 150 ribu, dengan keterangan fasilitas yang didapatkan yaitu “Pangku + Ngobrol”. Selanjutnya adalah paket “Premium” dengan harga Rp 300 ribu, yang menawarkan fasilitas “Pangku + Ngobrol + Pegang”, yang mengindikasikan adanya kontak fisik lebih lanjut antara pengunjung dan pramusaji. Yang paling mencolok adalah paket “Spesial” dengan harga Rp 750 ribu, yang menyertakan keterangan “Pangku + Intim”, sehingga memicu berbagai tanda tanya besar mengenai batasan layanan yang sebenarnya diberikan.
Selain ketiga paket tersebut, di bawahnya juga terdapat opsi “Tambah Waktu” dengan biaya Rp 30 ribu per 30 menit. Hal ini menunjukkan bahwa layanan “pangku” yang ditawarkan memiliki durasi tertentu, mirip dengan fasilitas hiburan seperti karaoke atau tempat rekreasi lainnya.
Dalam salah satu video yang merekam kondisi di kedai tersebut, perekam terdengar bertanya, “Yang mana yah, kalau yang itu kira-kira dia paketnya apa ya? Gua mau banget,” sambil mengarahkan kamera ke salah satu pengunjung yang tampaknya sedang mengambil salah satu paket layanan tersebut.
Meskipun berlokasi di kawasan elit Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), fisik daftar menu yang disediakan cukup sederhana, hanya berupa lembaran kertas yang dilaminating. Kondisi ini kontras dengan harga paket layanan yang mencapai ratusan ribu rupiah. Di dalam video juga terlihat sebuah standing banner yang menawarkan diskon 30 persen untuk “Kopi Pangku 2”, yang menyiratkan bahwa bisnis ini memiliki cabang atau sedang dalam masa promo pembukaan untuk unit baru.
Keberadaan menu dengan istilah dan konsep layanan seperti ini telah menimbulkan berbagai tanggapan dari warganet, sebagian besar mengungkapkan kekhawatiran dan rasa tidak setuju terkait dengan potensi eksploitasi serta pelanggaran terhadap etika dan peraturan yang berlaku. Beberapa pihak juga menyatakan akan melaporkan kondisi ini ke pihak berwenang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
(*)
