
SURABAYA, JAWA TIMUR – Ratusan massa yang melakukan aksi penolakan terhadap rencana relokasi Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke kawasan Tambak Oso Wilangun (TOW) telah membubarkan diri dari depan Balai Kota Surabaya sekitar pukul 13.30 WIB pada hari Selasa (13/01/2026). Meskipun demikian, para peserta aksi mengancam akan kembali menggelar aksi lanjutan pada hari Rabu (14/01/2026) dengan persiapan yang lebih matang, termasuk membawa peralatan memasak hingga tenda untuk tinggal sementara di lokasi.
Aksi yang diikuti oleh para pedagang dan jagal dari RPH Pegirian ini merupakan bagian dari serangkaian protes yang direncanakan akan berlangsung selama empat hari berturut-turut. Pada hari pertama aksi yang dilakukan pada hari Senin (12/01/2026), massa membawa seekor sapi sebagai simbol dari kegiatan usaha mereka yang akan terdampak jika relokasi dilakukan. Namun, untuk aksi lanjutan besok, mereka berencana membawa perlengkapan yang lebih lengkap untuk mendukung aktivitas mereka selama di lokasi aksi.
Dalam pidatonya di depan gerbang Balai Kota Surabaya sebelum massa membubarkan diri, salah satu orator menyampaikan tekad yang kuat dari para peserta aksi. “Bawa peralatan dapur, peralatan salat, bawa tenda. Besok kita akan demo lagi. Kita kompak. Tolong ibu-ibunya tolong besok bawa kompor, alat memasak nasi, kita makan di sini sampai tuntutan kita dipenuhi, biar tidak ada akses yang terganggu secara tidak perlu. Dari pada melakukan tindakan yang tidak terkontrol atau anarkis, besok kita akan kembali ke sini dengan persiapan yang lebih baik,” tegas orator tersebut pada hari Selasa.
Proses pembubaran massa sempat mengalami masa-masa tegang karena harapan mereka untuk bertemu langsung dengan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi tidak dapat terwujud. Meskipun telah menunggu selama beberapa jam di depan Balai Kota, pihak pemkot tidak dapat memenuhi permintaan untuk pertemuan langsung, yang membuat suasana menjadi sedikit memanas sebelum akhirnya para peserta aksi memutuskan untuk membubarkan diri dengan damai.
Meski telah membubarkan diri, para pedagang dan jagal dari RPH Pegirian menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan aksi hingga tuntutan mereka mendapatkan tanggapan yang jelas dari pemerintah kota. Menurut mereka, relokasi RPH Pegirian ke Tambak Oso Wilangun akan berdampak besar pada mata pencaharian mereka, mengingat lokasi baru yang diusulkan dinilai kurang strategis dan belum memiliki fasilitas pendukung yang memadai untuk menjalankan usaha mereka.
“Sekarang kita pulang dengan damai, tapi besok kita akan kembali dengan lebih banyak orang dan persiapan yang lebih matang. Kita tidak ingin membuat keributan atau mengganggu ketertiban masyarakat, tapi kita harus memperjuangkan hak kita untuk tetap menjalankan usaha yang telah kita bangun selama bertahun-tahun di lokasi RPH Pegirian,” ujar salah satu perwakilan pedagang yang tidak ingin disebutkan namanya.
Para peserta aksi juga menyampaikan bahwa mereka hanya menginginkan dialog terbuka dan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak antara pemerintah kota dan para pelaku usaha di RPH Pegirian. Mereka berharap bahwa sebelum mengambil keputusan akhir mengenai relokasi, pemerintah kota dapat melakukan musyawarah yang mendalam dengan seluruh pihak yang terkait untuk menemukan titik temu yang dapat diterima oleh semua orang.
(Red)
