Marinir Era Digital: Wagub AAL Saksikan Integrasi Teknologi dan Taktik Gerilya di Lattek Dikko Situbondo, Lahirkan “Cyber Guerilla” Penjaga Kedaulatan Maritim

TNI-Polri

Situbondo, 11 Desember 2025 – Latihan Praktek (Lattek) Pendidikan Komando (Dikko)-177 TA 2025 bukan sekadar mengasah kemampuan tempur tradisional, tetapi juga melahirkan “Cyber Guerilla” Marinir yang adaptif terhadap peperangan asimetris di era digital. Wakil Gubernur (Wagub) AAL Brigjen TNI (Mar) Ena Sulaksana, S.E. mewakili Gubernur AAL, Laksamana Muda TNI Sigit Santoso hadir pada upacara pembukaan Lattek Dikko-177 yang dipimpin oleh Komandan Kodikmar (Dankodikmar) Kodiklatal, Brigjen TNI Marinir I Made Sukada, S.E., CHRMP di Lapangan Apel Puslatpurmar 5 Baluran, Karangtekok Asembagus, Situbondo, Kamis (11/12), menyaksikan transformasi prajurit Marinir menjadi kekuatan tempur yang siap menghadapi ancaman di dunia nyata maupun dunia maya.

Sebanyak 42 Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) Korps Marinir Angkatan 73 resmi memulai Lattek Dikko-177, bukan hanya untuk menguasai taktik gerilya di hutan belantara Situbondo, tetapi juga untuk mengintegrasikan teknologi modern dalam setiap aspek peperangan.

“Di era digital ini, peperangan tidak hanya terjadi di medan tempur konvensional, tetapi juga di dunia maya. Oleh karena itu, kami membekali para Taruna dengan kemampuan untuk menghadapi ancaman di kedua dunia tersebut,” ujar Wagub AAL Brigjen TNI (Mar) Ena Sulaksana.

Lattek Dikko-177 mengintegrasikan teknologi modern dengan taktik gerilya tradisional melalui:

Pelatihan Cyber Warfare: Para Taruna dilatih untuk melakukan operasi cyber warfare, seperti pengumpulan informasi intelijen, penyebaran disinformasi, dan serangan terhadap sistem komputer musuh. Mereka diajarkan cara menggunakan perangkat lunak dan perangkat keras khusus untuk melakukan operasi cyber warfare.
 Penggunaan Drone dan Robot: Para Taruna dilatih untuk menggunakan drone dan robot dalam operasi pengintaian, pengawasan, dan penyerangan. Mereka diajarkan cara mengendalikan drone dan robot dari jarak jauh, serta cara mengintegrasikan data yang diperoleh dari drone dan robot ke dalam perencanaan taktis.
 Komunikasi Satelit: Para Taruna dilatih untuk menggunakan komunikasi satelit dalam operasi gerilya. Mereka diajarkan cara membangun jaringan komunikasi satelit yang aman dan handal, serta cara menggunakan komunikasi satelit untuk berkoordinasi dengan pasukan lain dan markas komando.
Navigasi GPS: Para Taruna dilatih untuk menggunakan navigasi GPS dalam operasi gerilya. Mereka diajarkan cara menggunakan GPS untuk menentukan posisi mereka di medan tempur, serta cara menggunakan GPS untuk merencanakan rute perjalanan dan menghindari jebakan musuh.

“Kami ingin para Taruna menjadi prajurit Marinir yang adaptif terhadap perubahan teknologi. Prajurit yang mampu memanfaatkan teknologi modern untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi gerilya,” jelas Dankodikmar Kodiklatal, Brigjen TNI Marinir I Made Sukada.

Selain itu, Lattek Dikko-177 juga menekankan pentingnya sinergi antara TNI dan masyarakat dalam menjaga kedaulatan maritim. Para Taruna diajak untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat, belajar tentang kearifan lokal, serta membangun kemitraan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah pesisir.

“Kami ingin para Taruna menjadi prajurit Marinir yang dekat dengan rakyat. Prajurit yang mampu membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat, serta menjadi bagian dari solusi dalam mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat,” kata Wagub AAL Brigjen TNI (Mar) Ena Sulaksana.

Pada Lattek Dikko-177 ini, selain Taruna AAL Korps Marinir Angkatan 73, juga diikuti oleh 170 Siswa Dikmata Marinir Angkatan 45 Gelombang 1. Lattek Dikko-177 TA 2025 akan berlangsung selama 68 hari kedepan hingga nantinya dilantik dan berhak menggunakan baret ungu serta brevet Dikko.

Diharapkan, Lattek Dikko-177 dapat melahirkan “Cyber Guerilla” Marinir yang tangguh, adaptif, dan dicintai rakyat, serta mampu menjaga kedaulatan maritim Indonesia di era digital.

“Marinir Era Digital”: Mengintegrasikan teknologi modern dan taktik gerilya tradisional, menciptakan prajurit Marinir yang siap menghadapi peperangan asimetris di era digital, menjaga kedaulatan maritim Indonesia dengan kekuatan teknologi dan semangat juang.

(Hery/bew)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!