
BANYUWANGI – Kondisi kemacetan parah yang melumpuhkan akses jalan arteri menuju Pelabuhan Ketapang memicu respons cepat dan besar-besaran dari aparat keamanan. Tidak hanya kepolisian, kini kekuatan militer dari berbagai matra dikerahkan bahu-membahu untuk mengurai kepadatan lalu lintas yang sempat menyentuh angka 15 kilometer tersebut.
Setelah sebelumnya personel TNI Angkatan Laut (AL) dan Korps Marinir diterjunkan, pada Rabu (2/4/2026) giliran prajurit TNI Angkatan Darat (AD) yang dilibatkan secara masif dalam operasi pengaturan arus lalu lintas. Kini, pos pengaturan di sepanjang jalan menuju pelabuhan dijaga oleh gabungan personel Polres Banyuwangi, TNI AL, Marinir, dan TNI AD yang bekerja sinergis 24 jam.
Penyebaran Personel di Titik-Titik Kritis
Merespons situasi darurat lalu lintas ini, personel gabungan disebar di sejumlah titik rawan kemacetan yang menjadi kunci kelancaran arus kendaraan. Pengaturan dilakukan mulai dari titik paling ujung hingga area dekat pelabuhan, meliputi:
- Pertigaan SPBU Farly
- Pertigaan Jalan Lingkar Tanjungwangi
- Area Pertamina Tanjungwangi
- Terminal Sritanjung
- Kawasan GWD
- Hingga kawasan Kampe yang menjadi ujung ekor kemacetan.
Komandan Kodim 0825/Banyuwangi, Letkol Arm. Triyadi Indrawijaya, membenarkan adanya penguatan personel yang sangat signifikan ini. Menurutnya, langkah ini diambil karena kemacetan yang terjadi sudah berlangsung selama beberapa hari dan tak kunjung usai, sehingga membutuhkan intervensi besar untuk memecah kepadatan.
“Kami diterjunkan bersama TNI AL dan Marinir untuk membantu mengurai kemacetan yang tak kunjung usai selama beberapa hari terakhir,” ujar Letkol Triyadi.
Total 270 Personel Dikerahkan
Dalam operasi gabungan ini, jumlah personel yang diturunkan sangat besar untuk memastikan setiap ruas jalan terpantau dan teratur dengan baik.
Secara rinci, dari unsur TNI AD terdapat 140 personel yang dikerahkan. Jumlah ini terdiri dari personel jajaran Kodim 0825/Banyuwangi serta bantuan personel dari Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 8/Uddhata Yudha yang ditarik dari wilayah Jember.
“Dari 140 personel itu, 65 personel dari Armed, dan 75 personel dari Kodim,” jelasnya.
Sementara itu, dari unsur TNI AL dan Korps Marinir, terdapat tambahan kekuatan sekitar 130 personel. Sehingga total kekuatan personel TNI yang membantu polisi mencapai sekitar 270 orang, belum termasuk personel kepolisian yang juga bertugas di lapangan. Jumlah yang sangat besar ini menunjukkan betapa seriusnya negara menangani masalah kemacetan di gerbang utama Pulau Jawa dan Bali ini.
Dominasi Truk Jadi Penyebab Utama
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan langsung di lapangan oleh Danramil 0825, tercatat pola arus lalu lintas yang cukup unik namun menjadi pemicu utama kemacetan panjang.
“Dari hasil evaluasi di lapangan, jumlah kendaraan kecil (KK) dan bus sebenarnya masih dalam jumlah wajar. Namun, jumlah truk cukup mendominasi jalanan,” ungkapnya.
Lebih jauh dijelaskan bahwa berdasarkan perhitungan di lapangan, sekitar 70 persen kendaraan yang memenuhi jalan raya adalah truk-truk besar. Lonjakan volume kendaraan ini terjadi secara drastis pada saat jam pembatasan operasional truk besar dibuka.
“Lonjakan terjadi saat pembatasan truk besar dibuka, sehingga volume kendaraan meningkat sangat signifikan dalam waktu singkat,” imbuh mantan Danyon Armed 8 tersebut.
Kapasitas Pelabuhan Masih Mampu, Tapi Antrean Panjang
Meskipun antrean kendaraan terlihat sangat panjang dan sempat mencapai 15 km, namun pada Selasa siang (31/3) tercatat sedikit menyusut menjadi sekitar 11 km.
Menurut pandangan Letkol Triyadi, sebenarnya kapasitas Pelabuhan Ketapang masih dinilai mampu untuk menampung dan melayani volume kendaraan tersebut. Namun, akumulasi kendaraan yang datang serentak terutama truk, membuat antrean memanjang sangat jauh hingga ke kawasan Kampe karena proses bongkar muat dan penyeberangan yang berjalan bertahap.
“Jumlah kendaraan yang mengantre sebenarnya masih cukup mampu diatasi oleh Pelabuhan Ketapang. Hanya saja prosesnya membutuhkan waktu sehingga antrean menjadi panjang,” pungkasnya.
Hingga saat ini, personel gabungan TNI dan Polri terus bekerja tanpa lelah, bergantian shift untuk memastikan arus kendaraan terus bergerak dan tidak berhenti total, demi kenyamanan dan keselamatan para pemudik maupun pengguna jalan regular.
(*)
