“KENAPA RUMAH SAKIT YANG ADA CUMA RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK? KARENA BAPAK TIDAK BOLEH SAKIT” – PERNYATAAN SIMPLE YANG MENYINGKAP REALITAS BEBERAPA ASPEK SOSIAL, EKONOMI, DAN BUDAYA TENTANG PERAN KEPALA KELUARGA DI INDONESIA

Nasional

Jakarta, 28 Januari 2026 – Sebuah tulisan singkat yang muncul di media sosial dengan pertanyaan “Kenapa rumah sakit yang ada cuma rumah sakit ibu dan anak.? Karena bapak tidak boleh sakit, kalau bapak sakit gimana nasib ibu dan anaknya?” telah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan berbagai kalangan ahli. Meskipun secara harfiah tidak benar bahwa hanya ada rumah sakit ibu dan anak di Indonesia – karena terdapat banyak rumah sakit umum, spesialis penyakit dalam, penyakit jiwa, dan lain sebagainya – pesan yang disampaikan melalui kalimat tersebut berhasil menyentil realitas mendalam tentang peran dan ekspektasi yang diberikan kepada figur kepala keluarga, terutama laki-laki sebagai “bapak” dalam struktur keluarga masyarakat Indonesia. Pernyataan yang tampak sederhana ini justru mengungkap berbagai kompleksitas masalah yang meliputi aspek ekonomi, budaya, kesehatan, hingga kebijakan publik yang masih perlu mendapatkan perhatian lebih serius.

Untuk memahami makna di balik kalimat tersebut, perlu dilihat dari konteks budaya dan sosial yang tumbuh subur di masyarakat Indonesia. Sejak lama, budaya tradisional Indonesia telah menetapkan peran yang jelas bagi setiap anggota keluarga, di mana laki-laki sebagai bapak atau kepala keluarga dituntut untuk menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, pelindung, dan sumber keamanan bagi istri serta anak-anak. Ekspektasi ini tidak hanya datang dari dalam keluarga sendiri, tetapi juga dari lingkungan masyarakat sekitar yang seringkali mengukur keberhasilan seorang laki-laki dari kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dr. Siti Nurhayati, seorang ahli sosiologi dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa ekspektasi semacam ini telah mengakar kuat dalam budaya nusantara, bahkan meskipun zaman telah berkembang dan peran perempuan semakin meningkat dalam sektor ekonomi. “Konsep ‘bapak sebagai tulang punggung’ adalah bagian dari nilai-nilai kolektivis yang ada di masyarakat Indonesia, di mana kesejahteraan keluarga menjadi prioritas utama. Namun, ekspektasi yang terlalu tinggi ini seringkali membuat laki-laki merasa terpaksa untuk terus bekerja tanpa memperhatikan kesehatan diri sendiri, karena mereka merasa tidak memiliki pilihan lain – jika mereka sakit atau tidak bisa bekerja, maka keluarga akan kehilangan sumber penghasilan,” ujar Dr. Siti dalam diskusi publik yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI, Rabu pagi.

Dari sisi ekonomi, data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 68,2% kepala keluarga di Indonesia masih merupakan laki-laki, dan sebagian besar dari mereka menjadi satu-satunya sumber penghasilan utama dalam keluarga. Kondisi ini menjadi semakin berat bagi mereka yang bekerja sebagai pekerja harian lepas, petani, atau pekerja di sektor informal yang tidak memiliki jaminan kesehatan atau tunjangan kecelakaan kerja yang memadai. Ketika seorang bapak sebagai tulang punggung ekonomi keluarga mengalami sakit atau kecelakaan yang membuatnya tidak dapat bekerja, maka keluarga akan langsung menghadapi kesulitan ekonomi, mulai dari kesulitan memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan, tempat tinggal, hingga biaya pendidikan anak-anak. Hal ini yang membuat banyak bapak merasa bahwa mereka “tidak boleh sakit” – bukan karena mereka tidak rentan terhadap penyakit, tetapi karena konsekuensi yang akan ditanggung oleh keluarga jika mereka tidak dapat menjalankan peran sebagai pencari nafkah.

Dr. Agus Priyono, seorang dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto Mangunkusumo, menambahkan bahwa kondisi ini juga berdampak negatif pada kesehatan laki-laki di Indonesia. Banyak laki-laki yang mengabaikan tanda-tanda sakit pada tubuh mereka karena khawatir akan mengganggu pekerjaan atau harus mengeluarkan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa angka kunjungan laki-laki ke fasilitas kesehatan jauh lebih rendah dibandingkan perempuan, bahkan untuk penyakit yang sudah tergolong kronis seperti hipertensi atau diabetes melitus. “Kita sering menemukan kasus di mana seorang laki-laki datang ke rumah sakit dalam kondisi sudah parah atau stadium lanjut penyakit, karena mereka telah mengabaikan gejala yang muncul selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Alasan paling umum yang mereka berikan adalah tidak punya waktu untuk berobat karena harus bekerja, atau khawatir biaya pengobatan akan memberatkan keluarga,” jelas Dr. Agus.

Mengenai pernyataan bahwa “rumah sakit yang ada cuma rumah sakit ibu dan anak”, meskipun secara faktual tidak benar, namun hal ini mencerminkan adanya kesadaran masyarakat bahwa fasilitas kesehatan yang ada lebih banyak fokus pada kelompok yang dianggap lebih rentan, yaitu ibu dan anak. Hal ini tidak mengherankan mengingat selama ini pemerintah telah melakukan berbagai program prioritas untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, seperti Program Keluarga Berencana, Program Imunisasi Nasional, dan pembangunan rumah sakit ibu dan anak di berbagai daerah untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. Program-program ini memang sangat penting dan telah memberikan kontribusi besar dalam meningkatkan indeks kesehatan masyarakat Indonesia. Namun, hal ini juga membuat sebagian masyarakat merasa bahwa kesehatan laki-laki, terutama kepala keluarga dewasa, tidak mendapatkan perhatian yang setara.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Dra. Lina Wijayanti, M.Kes, menjelaskan bahwa pemerintah sebenarnya telah menyadari pentingnya kesehatan laki-laki dan telah melakukan beberapa upaya untuk menangani masalah ini. Di antaranya adalah pelaksanaan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja laki-laki di sektor formal, serta program penyuluhan kesehatan tentang pentingnya menjaga pola makan dan olahraga bagi laki-laki dewasa. Namun, ia mengakui bahwa masih terdapat banyak tantangan dalam menjangkau kelompok pekerja di sektor informal maupun masyarakat pedesaan yang memiliki akses terbatas terhadap fasilitas kesehatan dan informasi kesehatan. “Kita menyadari bahwa kesehatan laki-laki sebagai kepala keluarga sangat penting untuk kesejahteraan keluarga secara keseluruhan. Oleh karena itu, kita sedang menyusun program kesehatan laki-laki yang lebih terintegrasi dengan program kesehatan keluarga yang sudah ada, dengan fokus pada pencegahan penyakit kronis dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin,” ujar Dra. Lina.

Selain aspek kesehatan dan ekonomi, pernyataan tersebut juga mengungkapkan masalah terkait dengan sistem jaminan sosial dan kesehatan di Indonesia. Meskipun telah ada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang bertujuan untuk memberikan akses layanan kesehatan kepada seluruh rakyat Indonesia, namun masih terdapat beberapa kendala dalam implementasinya. Banyak pekerja di sektor informal yang belum terdaftar dalam JKN karena tidak memiliki pendapatan tetap atau tidak mengetahui cara mendaftar. Selain itu, masih terdapat beberapa rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang belum siap untuk menangani kasus penyakit yang sering menyerang laki-laki dewasa, seperti penyakit jantung, stroke, atau kanker prostat, dengan fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai. Ketua Umum Serikat Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr. Mohamad Subuh, Sp.PD-KEMD, menekankan bahwa perlu adanya perbaikan sistem jaminan kesehatan agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk para kepala keluarga yang bekerja di sektor informal. “JKN adalah langkah maju yang sangat penting, namun kita perlu memastikan bahwa setiap orang dapat mengakses layanan kesehatan dengan mudah dan tidak merasa terbebani oleh biaya. Selain itu, kita juga perlu meningkatkan kapasitas fasilitas kesehatan untuk menangani berbagai jenis penyakit yang menyerang laki-laki dewasa,” jelas Prof. Mohamad Subuh.

Di tingkat masyarakat, beberapa komunitas telah mulai menyadari pentingnya kesehatan kepala keluarga dan melakukan berbagai upaya untuk memberikan dukungan. Misalnya, Komunitas “Ayah Sehat Indonesia” yang berdiri sejak tahun 2023 telah melakukan berbagai kegiatan seperti penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan gratis, dan pembentukan kelompok dukungan bagi para ayah untuk berbagi pengalaman dan masalah yang mereka hadapi. Pendiri Komunitas Ayah Sehat Indonesia, Budi Santoso, mengatakan bahwa tujuan utama komunitas tersebut adalah untuk mengubah paradigma bahwa “ayah tidak boleh sakit” menjadi “ayah juga perlu menjaga kesehatan agar dapat terus merawat keluarga”. “Kita sering mendengar cerita dari para ayah yang merasa tertekan karena harus bekerja tanpa henti dan mengabaikan kesehatan diri mereka. Melalui komunitas ini, kita ingin memberikan dukungan dan informasi agar mereka menyadari bahwa menjaga kesehatan bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk keluarga mereka yang membutuhkan kehadiran dan perhatian mereka,” ujar Budi Santoso.

Perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi juga menjadi salah satu faktor yang dapat membantu mengubah pandangan masyarakat tentang peran kepala keluarga dan pentingnya kesehatan laki-laki. Banyak platform digital yang kini menyediakan informasi kesehatan secara mudah diakses, serta layanan konsultasi kesehatan dengan dokter secara daring yang dapat membantu para ayah atau kepala keluarga untuk mendapatkan informasi dan bantuan kesehatan tanpa harus meninggalkan pekerjaan mereka dalam waktu lama. Selain itu, semakin banyak perusahaan yang mulai menyadari pentingnya kesehatan karyawan dan memberikan fasilitas seperti pemeriksaan kesehatan rutin, program olahraga kantor, dan cuti sakit yang memadai untuk memastikan karyawan tetap sehat dan produktif.

Dalam kesimpulan, meskipun pernyataan “Kenapa rumah sakit yang ada cuma rumah sakit ibu dan anak.? Karena bapak tidak boleh sakit, kalau bapak sakit gimana nasib ibu dan anaknya?” tampak sederhana, namun ia menyimpan makna yang sangat dalam tentang realitas kehidupan banyak kepala keluarga di Indonesia. Pesan di balik kalimat tersebut tidak hanya mengungkap masalah kesehatan laki-laki yang seringkali terabaikan, tetapi juga masalah ekonomi, budaya, dan sistem jaminan sosial yang masih perlu mendapatkan perhatian lebih serius dari berbagai pihak. Perlu adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan institusi pendidikan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan para kepala keluarga, sehingga mereka tidak lagi merasa bahwa mereka “tidak boleh sakit” karena memiliki dukungan yang memadai untuk diri sendiri dan keluarga mereka. Hanya dengan demikian, konsep keluarga yang sehat dan harmonis dapat benar-benar terwujud di seluruh pelosok negeri Indonesia.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!