
Jakarta, 9 Desember 2025 – Di tengah peringatan Hari Antikorupsi Sedunia, Indonesia menegaskan komitmennya untuk memerangi korupsi dengan strategi inovatif dan pemberdayaan masyarakat hingga akar rumput. Korupsi, yang masih menjadi tantangan serius, tidak hanya menggerogoti keuangan negara, tetapi juga merusak sendi-sendi kepercayaan publik dan menghambat pembangunan berkelanjutan.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, modus korupsi di Indonesia semakin kompleks dan canggih, merambah berbagai sektor, mulai dari birokrasi, penegak hukum, korporasi, hingga politik. Namun, semangat perlawanan terus berkobar dengan dukungan penuh dari masyarakat, pemerintah, dan lembaga antikorupsi.
“Peringatan Hari Antikorupsi Sedunia ini bukan hanya seremonial, tetapi momentum untuk merefleksikan diri, mengevaluasi kinerja, dan merumuskan strategi baru yang lebih efektif,” ujar juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Indonesia kini fokus pada tiga strategi utama dalam pemberantasan korupsi:
Pencegahan Berbasis Teknologi: Mengembangkan sistem e-government yang terintegrasi, transparan, dan akuntabel. Penerapan teknologi blockchain untuk melacak aliran dana publik dan mencegah manipulasi anggaran. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi pola transaksi mencurigakan dan potensi korupsi.
Pemberdayaan Masyarakat Sipil: Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan dan pelaporan tindak pidana korupsi. Memperkuat peran organisasi masyarakat sipil (OMS) sebagai mitra strategis dalam edukasi, advokasi, dan pengawasan.
Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu: Memastikan penegakan hukum yang tegas dan adil terhadap pelaku korupsi, tanpa memandang status sosial, jabatan, atau afiliasi politik. Meningkatkan koordinasi antar lembaga penegak hukum untuk mempercepat proses penyidikan dan penuntutan.
Selain itu, Indonesia juga menggalakkan pendidikan antikorupsi sejak dini, mulai dari tingkat keluarga, sekolah, hingga perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk menanamkan nilai-nilai integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sejak usia muda.
“Kami percaya, pendidikan adalah kunci untuk membangun generasi yang antikorupsi. Dengan menanamkan nilai-nilai integritas sejak dini, kita dapat menciptakan budaya yang tidak toleran terhadap korupsi,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Masyarakat juga memiliki peran krusial dalam mencegah dan memberantas korupsi. Setiap individu dapat berkontribusi dengan:
Menolak segala bentuk suap dan gratifikasi.
Mengawasi penggunaan anggaran publik di lingkungan sekitar.
Melaporkan dugaan korupsi melalui kanal resmi dan terpercaya.
Membangun budaya integritas dalam keluarga, sekolah, dan komunitas.
“Pemberantasan korupsi adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita bergandeng tangan untuk menciptakan Indonesia yang bersih, adil, dan sejahtera,” ajak juru bicara KPK.
Dengan inovasi teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan penegakan hukum yang tegas, Indonesia optimis dapat memberantas korupsi hingga akar rumput dan mewujudkan cita-cita bangsa yang adil dan makmur.
