Dari Sembako ke Kemandirian: Transformasi Lapas Lumajang Menuju ‘Lapas Terbuka’, Berdayakan Ekonomi Ojol dan Warga, Ini Strateginya!”

Nasional

LUMAJANG,November 2025 – Pembagian 40 paket sembako oleh Lapas Kelas IIB Lumajang bukan sekadar aksi sosial sesaat. Ini adalah langkah awal menuju transformasi yang lebih besar: mewujudkan “Lapas terbuka” yang terintegrasi dengan masyarakat, memberdayakan ekonomi pengemudi ojek online (ojol) dan warga sekitar, serta menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan. Bagaimana caranya?

Lebih dari Sembako: Investasi Jangka Panjang

Sembako memang membantu memenuhi kebutuhan mendesak. Namun, bantuan yang berkelanjutan adalah yang memberdayakan penerima untuk mandiri secara ekonomi. Lapas Lumajang bisa menjadi katalisator untuk perubahan ini.

Konsep “Lapas Terbuka”: Integrasi dengan Masyarakat

“Lapas terbuka” bukan berarti menghilangkan keamanan. Ini berarti membuka diri untuk berinteraksi positif dengan masyarakat, memanfaatkan potensi sumber daya yang ada di dalam dan di luar Lapas, serta menciptakan program-program yang saling menguntungkan.

Strategi Pemberdayaan Ekonomi:

.Kemitraan dengan Ojol:

Praktik: Lapas bisa menjalin kemitraan resmi dengan komunitas ojol. Ojol bisa menjadi mitra pengantar barang hasil produksi narapidana (kerajinan tangan, makanan, dll.) ke masyarakat luas. Manfaat: Ojol mendapatkan penghasilan tambahan, Lapas mendapatkan saluran distribusi produk, dan masyarakat mendapatkan produk berkualitas dengan harga terjangkau.
. Pelatihan Kewirausahaan untuk Warga Sekitar: Praktik: Lapas bisa menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan untuk warga sekitar, dengan narasumber dari kalangan pengusaha sukses atau akademisi. Materi pelatihan bisa meliputi keterampilan membuat produk, pemasaran, manajemen keuangan, dll. Manfaat: Warga sekitar memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk memulai usaha sendiri, meningkatkan pendapatan keluarga, dan mengurangi ketergantungan pada bantuan.
Pemanfaatan Lahan Lapas untuk Kegiatan Produktif: Praktik: Jika memungkinkan, Lapas bisa memanfaatkan sebagian lahan yang tidak terpakai untuk kegiatan pertanian atau peternakan. Hasilnya bisa dijual ke masyarakat atau digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan narapidana. Manfaat: Meningkatkan produktivitas Lapas, menyediakan sumber pangan yang murah dan sehat, serta memberikan pelatihan keterampilan kepada narapidana.
.Pembentukan Koperasi Lapas: Praktik: Lapas bisa membentuk koperasi yang melibatkan narapidana, petugas Lapas, dan warga sekitar. Koperasi ini bisa bergerak di bidang produksi, pemasaran, atau jasa. Manfaat: Menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan anggota, dan memperkuat solidaritas sosial.

    Mahendra: Arsitek Perubahan Sosial

    Mahendra memiliki peran kunci dalam mewujudkan visi “Lapas terbuka” ini. Ia harus menjadi arsitek perubahan sosial, membangun jaringan dengan berbagai pihak, dan menginspirasi semua elemen di Lapas untuk berpartisipasi aktif.

    Rekomendasi Praktis untuk Keberlanjutan Program:

    . Evaluasi dan Monitoring: Lakukan evaluasi dan monitoring secara berkala untuk mengukur dampak program dan mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki.
    .Transparansi dan Akuntabilitas: Pastikan pengelolaan program transparan dan akuntabel. Libatkan masyarakat dalam pengawasan.
    .Dukungan Pemerintah Daerah: Dapatkan dukungan dari pemerintah daerah dalam bentuk anggaran, pelatihan, atau fasilitas.
    .Kemitraan dengan Sektor Swasta: Jalin kemitraan dengan perusahaan swasta untuk mendapatkan dukungan teknis, pemasaran, atau pendanaan.
    . Publikasi dan Promosi: Publikasikan kisah sukses program dan promosikan produk-produk Lapas melalui media sosial, website, atau pameran.

    Pesan untuk Lapas di Seluruh Indonesia:

    Jadikan Lapas bukan hanya tempat menghukum, tapi juga tempat memberdayakan. Jadikan narapidana bukan hanya beban, tapi juga aset. Dengan mewujudkan “Lapas terbuka”, kita bisa menciptakan masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan inklusif.

    Apakah Anda tertarik untuk membahas lebih lanjut tentang model-model “Lapas terbuka” yang sukses di negara lain atau peran teknologi dalam meningkatkan efektivitas program pemberdayaan di Lapas?

    (red)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    error: Content is protected !!