Wapres Gibran dan Ibu Selvi Tampil dengan Busana Adat Rote dan Dayak Kenyah di Upacara Detik-Detik Proklamasi, Simbol Persatuan Keberagaman Nusantara

JAKARTA – Keindahan dan kekayaan budaya dari ujung timur hingga tengah Nusantara tampak menghiasi halaman Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026). Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka didampingi Ibu Selvi Gibran Rakabuming tampil memukau mengenakan busana adat khas daerah berbeda saat menghadiri Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Dalam momen bersejarah tersebut, Wapres Gibran memilih mengenakan busana adat dari Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Busana ini menonjolkan keindahan kain tenun khas setempat yang disebut Lafa dengan motif khusus bernama Hua Peni. Kain tersebut kemudian dipadukan dengan jas hitam formal, serta dilengkapi topi tradisional bernama Ti’i Langga yang terbuat dari anyaman daun lontar—simbol kebijaksanaan dan kedekatan masyarakat Rote dengan alam sekitarnya.

Sementara itu, Ibu Selvi Gibran Rakabuming tampil anggun dengan busana adat Ta’a milik suku Dayak Kenyah yang mendiami wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Busana ini dihiasi motif Kalong Aga, yang memiliki makna mendalam: merepresentasikan kesederhanaan hidup, kekuatan batin, serta keterikatan abadi masyarakat Dayak Kenyah dengan alam dan para leluhur.

Pemilihan dua busana adat dari wilayah yang berjauhan ini bukan sekadar penampilan semata, melainkan pesan kuat tentang keberagaman yang menyatukan bangsa. Dari pulau Rote yang terletak di selatan Nusa Tenggara hingga pedalaman Kalimantan, seluruh budaya dan suku bangsa adalah bagian tak terpisahkan dari identitas Indonesia.

“Beraneka budaya, satu Indonesia. Keberagaman itulah yang menjadi kekuatan terbesar kita untuk terus melangkah beriringan, bergandengan tangan mewujudkan cita-cita bangsa: Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur bagi seluruh rakyat,” ujar Wapres Gibran dalam keterangannya usai upacara.

Penampilan ini pun disambut antusiasme luas dari masyarakat yang hadir maupun yang menyaksikan lewat siaran langsung. Banyak yang menilai hal ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia diraih berkat persatuan berbagai suku, agama, ras, dan budaya yang ada di tanah air.

Momen ini semakin memperkuat semangat persaudaraan nasional di tengah perbedaan, membuktikan bahwa meski beragam adat dan tradisi, kita tetap satu bangsa, satu tanah air: Indonesia. 🇮🇩

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!