
BANDUNG, JAWA BARAT – Sorot lampu kamera dan tepuk tangan kekaguman publik sempat menjadi makanan sehari-hari bagi Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi. Di layar kaca, ia adalah representasi ideal dari ketegasan hukum—seorang srikandi polisi yang tak kenal kompromi membongkar jaringan pengedar barang terlarang. Namun, realita terkadang menyajikan naskah yang lebih kelam dari fiksi televisi, mengubah sosok yang dulu diidolakan menjadi sosok yang menjadi contoh dari kejatuhan yang tragis. Srikandi Layar Kaca yang Menginspirasi Masyarakat
Bagi penonton setia program televisi kepolisian bertajuk “86”, sosok Kompol Yuni bukanlah nama yang asing. Gaya bicaranya yang lugas tanpa basa-basi, keberaniannya yang tak gentar merangsek masuk ke sarang pengedar barang terlarang, serta penampilannya yang nyentrik namun tetap berwibawa membuatnya cepat menjadi idola bagi banyak kalangan, terutama generasi muda yang menginginkan keadilan yang tegas.
Ia sering kali tampil mengenakan kaus bertuliskan “Fight Against Drugs” (Lawan Narkotika), menjadi sosok yang memimpin langsung anak buahnya di medan tugas. Di mata masyarakat, ia adalah pahlawan yang dengan gigih berdiri di garis depan untuk melindungi generasi muda dari bahaya zat adiktif yang merusak masa depan. Karirnya pun menunjukkan perkembangan yang sangat pesat; mulai dari berbagai tugas operasional hingga akhirnya dipercaya memegang tongkat komando sebagai Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Astana Anyar, Kota Bandung—posisi strategis yang menjadi bukti dari kepercayaan yang diberikan oleh institusi kepolisian. Kejatuhan di Balik Seragam yang Tak Terduga
Ironi menyedihkan itu pecah dengan tiba-tiba pada pertengahan Februari 2021. Citra tanpa cela yang dibangun selama bertahun-tahun runtuh dalam hitungan jam. Kejatuhannya bukanlah karena gugur di medan pertempuran melawan kejahatan, melainkan karena sebuah penggerebekan yang dilakukan oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri—institusi yang menjadi rumahnya sendiri.
Tim Propam gabungan dari Mabes Polri dan Polda Jawa Barat berhasil menangkap Kompol Yuni di sebuah hotel di kawasan Kota Bandung. Fakta yang terungkap setelahnya sukses membuat publik terhenyak dan tak percaya: sang srikandi anti-narkotika yang selama ini menggempur para pengedar, kedapatan tengah mengonsumsi sabu-sabu. Lebih mirisnya lagi, ia tidak sendirian dalam kegiatan terlarang tersebut—pesta barang haram yang ditemukan oleh tim penggerebek melibatkan sebanyak 11 anggota polisi lain yang notabene adalah anak buahnya sendiri di Kapolsek Astana Anyar. Sanksi Tegas dan Kepercayaan yang Terkoyak Sepihak
Skandal yang melibatkan nama besar dalam dunia kepolisian ini langsung memicu gelombang kekecewaan masif dari seluruh lapisan masyarakat. Pepatah lama “pagar makan tanaman” menjadi narasi yang paling sering dilontarkan oleh publik sebagai bentuk rasa kecewa yang mendalam. Bagaimana mungkin sosok yang selama ini dengan tegas menghukum para pelaku perdagangan dan konsumen barang terlarang, justru berakhir menjadi bagian dari kelompok yang sama yang dulu ia cegah?
Tindakan tegas langsung diambil oleh institusi Polri sebagai bentuk komitmen menjaga integritas dan profesionalisme aparat penegak hukum. Kapolda Jawa Barat saat itu segera menerbitkan surat telegram pencopotan Kompol Yuni dari jabatan Kapolsek Astana Anyar untuk mempermudah proses penyidikan yang akan berjalan. Proses hukum secara pidana serta sidang kode etik internal kepolisian berjalan dengan ketat dan tanpa pandang bulu, yang pada akhirnya berujung pada sanksi berat berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) atau yang lebih dikenal dengan pemecatan dari lingkungan kepolisian. Refleksi dari Balik Jeruji: Pengingat Penting Bagi Aparat
Kisah Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi menjadi catatan kelam sekaligus pengingat yang sangat penting bagi seluruh aparat penegak hukum di negeri ini. Berada di garis depan pemberantasan kejahatan tidak membuat seseorang kebal dari godaan kejahatan itu sendiri. Ketika integritas dan komitmen pada nilai-nilai hukum mulai goyah, seragam kehormatan dan jabatan setinggi apa pun tak mampu menyelamatkan seseorang dari kejatuhan yang menyakitkan.
Sang srikandi yang dulu menghiasi layar kaca dan menjadi inspirasi kini telah kehilangan panggungnya selamanya. Slogan “Fight Against Drugs” yang dulu ia gaungkan dengan lantang di setiap kesempatan, kini menjadi ironi bisu yang akan terus melekat pada akhir perjalanan karirnya—sebuah cerita yang mengingatkan bahwa integritas adalah aset tak ternilai yang harus selalu dijaga dengan sekuat tenaga oleh setiap orang yang dipercaya untuk menjaga keadilan.
(red)
