
JAKARTA, 18 FEBRUARI 2026 – Perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan, berkurangnya luas ruang hijau di berbagai wilayah, serta persoalan sampah yang terus menumpuk tidak lagi menjadi isu yang hanya perlu diperhatikan pada saat tertentu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk segera ditangani. Panggilan untuk bekerja sama menjaga alam dan lingkungan hidup telah menjadi semakin mendesak, guna memastikan masa depan bangsa yang lestari dan mampu memberikan kesejahteraan bagi generasi mendatang.
Fenomena perubahan iklim di Indonesia telah menunjukkan dampak yang nyata dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pola cuaca yang tidak menentu, banjir yang semakin sering melanda berbagai daerah, kekeringan yang berkepanjangan di wilayah tertentu, hingga kenaikan permukaan air laut yang mengancam pulau-pulau pesisir dan kepulauan kecil. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), suhu rata-rata di Indonesia telah meningkat sekitar 0,8 derajat Celcius selama dekade terakhir, dengan proyeksi peningkatan yang lebih signifikan jika tidak dilakukan upaya mitigasi yang serius.
“Perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang kita hadapi hari ini. Dampaknya tidak hanya merusak ekosistem alam, namun juga berdampak langsung pada sektor pangan, kesehatan masyarakat, serta perekonomian nasional. Kita tidak dapat lagi tinggal diam dan harus mengambil langkah nyata untuk mengatasinya,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Lingkungan Hidup KLHK dalam acara diskusi nasional tentang keberlanjutan yang diadakan di Jakarta pada hari ini.
Selain perubahan iklim, penurunan luas ruang hijau juga menjadi masalah krusial yang perlu mendapatkan perhatian serius. Ruang hijau yang berperan sebagai paru-paru kota, penyerap karbon dioksida, serta penyangga ekosistem alam telah mengalami penyusutan yang cukup signifikan akibat perluasan pemukiman, pembangunan infrastruktur, dan konversi lahan untuk berbagai keperluan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa luas ruang hijau di kota-kota besar Indonesia telah menurun hingga 30% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dengan Jakarta, Surabaya, dan Medan menjadi kota dengan tingkat penurunan tertinggi.
Di Jakarta misalnya, luas ruang hijau yang seharusnya mencapai minimal 30% dari total luas wilayah kota menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini hanya mencapai sekitar 9%. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara di kota, terjadinya genangan air saat hujan deras, serta penurunan kualitas udara yang berdampak pada kesehatan masyarakat. Banyak komunitas lingkungan hidup telah mengeluarkan suara untuk mendorong pemerintah daerah dan masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan luas ruang hijau, baik melalui penanaman pohon di lahan kosong, pembangunan taman vertikal, maupun pemanfaatan lahan pekarangan untuk menanam tanaman hijau.
“Salah satu cara paling efektif untuk mengatasi perubahan iklim dan meningkatkan kualitas lingkungan adalah dengan memperbesar luas ruang hijau. Setiap pohon yang kita tanam memiliki peran penting dalam menyerap karbon dan menghasilkan oksigen, serta memberikan kesejukan bagi lingkungan sekitar. Kita perlu mengubah paradigma bahwa ruang hijau adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan kota yang modern dan berkelanjutan,” jelas salah satu aktivis lingkungan dari komunitas Hijau Indonesia.
Tak kalah mendesaknya adalah persoalan sampah yang terus menjadi beban bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Menurut data KLHK, volume sampah yang dihasilkan setiap hari di Indonesia mencapai sekitar 65.000 ton, dengan hanya sekitar 60% yang dapat dikelola dengan benar. Sisanya menjadi sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir yang tidak terkelola dengan baik, sungai, dan bahkan lautan, yang berdampak pada kerusakan ekosistem perairan, kesehatan masyarakat, serta citra negara di kancah internasional.
Masalah sampah plastik menjadi salah satu permasalahan yang paling menonjol, mengingat Indonesia termasuk dalam lima besar negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Banyaknya penggunaan plastik sekali pakai yang belum dapat digantikan dengan alternatif yang lebih ramah lingkungan menjadi salah satu penyebab utama masalah ini. Untuk mengatasinya, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan larangan penggunaan plastik sekali pakai di beberapa sektor, namun implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan yang perlu diatasi bersama dengan masyarakat dan dunia usaha.
“Persoalan sampah adalah masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah saja. Dibutuhkan peran aktif dari setiap individu, mulai dari mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan sampah, melakukan daur ulang, hingga mendukung produk-produk yang ramah lingkungan. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan akan memiliki dampak besar jika dilakukan secara bersama-sama,” ujar perwakilan dari Asosiasi Pengelola Sampah Indonesia.
Menanggapi berbagai permasalahan lingkungan yang dihadapi, berbagai pihak mulai mengambil langkah konkret untuk berkontribusi dalam menjaga alam dan menciptakan masa depan Indonesia yang berkelanjutan. Pemerintah pusat dan daerah telah menyusun berbagai program dan kebijakan terkait konservasi alam, pengelolaan sampah, serta peningkatan ruang hijau. Banyak perusahaan juga mulai menerapkan konsep bisnis berkelanjutan dengan mengurangi jejak karbon, menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan, serta berkontribusi pada program konservasi.
Selain itu, peran masyarakat sipil dan komunitas lingkungan hidup juga semakin signifikan dalam mendorong perubahan positif. Banyak gerakan masyarakat yang digerakkan untuk melakukan penanaman pohon massal, pembersihan sungai dan pantai, serta penyuluhan tentang pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat luas. Anak-anak muda juga semakin aktif terlibat dalam gerakan lingkungan, dengan menggunakan platform digital untuk menyebarkan pesan serta mengorganisir kegiatan yang berdampak pada pelestarian alam.
Salah satu contoh gerakan masyarakat yang sukses adalah program “Tanam Pohon untuk Indonesia” yang telah berhasil menanam lebih dari 1 juta pohon di berbagai wilayah Indonesia dalam waktu satu tahun terakhir. Program ini melibatkan partisipasi dari berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah, pekerja kantoran, hingga pengusaha, yang menunjukkan bahwa tanggung jawab bersama untuk menjaga alam dapat diwujudkan melalui kerja sama yang erat.
“Kita harus menyadari bahwa alam adalah aset yang tidak ternilai harganya bagi kita dan generasi mendatang. Tidak ada waktu yang lebih baik untuk mulai bertindak selain sekarang. Mari kita jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan, sehingga kita dapat mewariskan Indonesia yang indah, sehat, dan berkelanjutan kepada anak cucu kita,” pungkas salah satu tokoh masyarakat yang terlibat dalam gerakan lingkungan.
Panggilan untuk bersama-sama menjaga alam bukan hanya tentang menyelamatkan bumi dari kerusakan, melainkan juga tentang memastikan bahwa kehidupan di masa depan dapat berjalan dengan layak dan penuh harapan. Setiap langkah yang kita ambil hari ini akan menentukan kualitas hidup yang akan dinikmati oleh generasi mendatang, sehingga tanggung jawab bersama untuk menjaga alam menjadi hal yang tidak dapat ditunda lagi.
(*)
