
Tulungagung, 9 Februari 2026 – Sebuah kejadian mengkhawatirkan melanda siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Bungur, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung, ketika puluhan siswa mengalami gejala mual dan muntah setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada pagi hari ini. Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, dr. Aris Setiawan, menyampaikan bahwa sekitar pukul 10.00 WIB, sebanyak 24 siswa melaporkan merasakan keluhan yang mengarah pada dugaan keracunan makanan setelah memakan menu MBG yang disediakan sekolah.
Menurut dr. Aris Setiawan, setelah menerima laporan dari pihak sekolah, tim medis dari Puskesmas Karangrejo langsung bergerak untuk memberikan pertolongan pertama. Seluruh 24 siswa yang mengalami gejala segera dibawa ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan penanganan medis yang sesuai. “Kondisi para siswa saat tiba di puskesmas sebagian besar menunjukkan gejala mual, muntah berulang, dan beberapa di antaranya mengalami kelelahan akibat kehilangan cairan. Tim kami segera memberikan terapi cairan dan obat penenang perut,” jelasnya dalam konferensi pers singkat di kantor Dinkes Tulungagung.
Hingga pukul 13.00 WIB, kondisi sebagian besar siswa menunjukkan perbaikan yang signifikan. Sebanyak 20 siswa telah dinyatakan cukup stabil dan dibolehkan pulang bersama orang tua mereka, dengan anjuran untuk istirahat dan mengonsumsi makanan yang mudah dicerna. Namun, empat siswa lainnya masih perlu menjalani perawatan lebih lanjut karena mengalami tingkat dehidrasi yang cukup berat akibat muntah yang berlangsung terus-menerus. “Keempat siswa tersebut akan terus dipantau kondisi kesehatannya dan akan diberangkatkan pulang setelah kadar cairan tubuh mereka kembali normal,” tambah dr. Aris.
Untuk mengetahui penyebab pasti dari kejadian ini, pihak Dinkes telah segera mengambil sampel makanan yang disantap para siswa. Sampel yang diambil meliputi seluruh komponen menu MBG hari itu, yaitu nasi putih, ayam suwir bumbu kuning, sayur kacang panjang rebus, tahu bacem, serta kurma sebagai pelengkap. Selain itu, tim juga mengambil sampel air minum yang digunakan di sekolah dan memeriksa kondisi tempat penyimpanan serta proses penyajian makanan untuk melihat apakah terdapat unsur kontaminasi atau pelanggaran keamanan pangan.
“Kami akan melakukan pemeriksaan laboratorium mendalam terhadap semua sampel yang telah diambil. Proses ini memerlukan waktu beberapa hari untuk mendapatkan hasil yang akurat, sehingga kami dapat mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab gejala yang dialami oleh para siswa,” ujar dr. Aris, menambahkan bahwa pihaknya juga sedang menyelidiki riwayat penyediaan bahan makanan serta proses pembuatan MBG tersebut mulai dari dapur pembantu hingga sampai ke sekolah.
Sementara itu, Kepala SDN 3 Bungur, Andri Susanto, mengaku sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa siswa-siswinya. Menurutnya, menu MBG hari ini diterima sekolah sekitar pukul 07.30 WIB dan segera disajikan kepada siswa karena khawatir makanan akan cepat basi di cuaca yang cukup panas. “Kami tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, karena beberapa guru yang juga memakan menu MBG yang sama tidak merasakan adanya keluhan atau indikasi makanan basi sedikitpun,” jelasnya dengan suara penuh prihatin.
SDN 3 Bungur memiliki total jumlah siswa sebanyak 76 anak, sehingga kejadian ini mempengaruhi hampir sepertiga dari seluruh siswa di sekolah. Sebagian besar siswa yang mengalami gejala berasal dari kelas 5 dan 6, dengan rincian 12 siswa dari kelas 6 dan 10 siswa dari kelas 5, serta dua siswa dari kelas 4. Pihak sekolah telah segera menghubungi orang tua siswa yang terkena dampak dan memberikan informasi secara transparan mengenai kondisi kesehatan anak-anak mereka.
“Kami telah melakukan koordinasi dengan Komite Sekolah dan orang tua siswa untuk memberikan penjelasan lengkap mengenai kejadian ini. Selain itu, kami juga telah memberitahukan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung agar dapat mengambil langkah-langkah preventif dan memberikan bantuan yang diperlukan,” ujar Andri Susanto. Ia juga menambahkan bahwa sekolah akan sementara menghentikan penyajian MBG hingga ada kepastian mengenai penyebab kejadian dan jaminan keamanan pangan dari pihak penyedia.
Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung, yang juga telah melakukan kunjungan ke sekolah dan puskesmas, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program MBG di seluruh sekolah di Kabupaten Tulungagung. “Kami sangat prihatin dengan apa yang terjadi pada siswa di SDN 3 Bungur. Keamanan dan kesehatan siswa adalah prioritas utama kami, sehingga kami akan bekerja sama erat dengan Dinkes untuk memastikan bahwa kejadian serupa tidak terulang lagi,” ujarnya.
Beberapa orang tua siswa yang menemani anaknya di puskesmas menyampaikan harapan agar penyebab kejadian dapat segera terungkap dan langkah-langkah pencegahan dapat segera diambil. “Kami hanya ingin anak-anak kami sehat dan aman ketika berada di sekolah. Semoga penyebabnya segera diketahui agar tidak ada lagi yang mengalami hal yang sama,” ujar salah satu orang tua siswa yang tidak ingin disebutkan namanya.
Pihak Dinkes Tulungagung menyampaikan bahwa mereka akan terus memberikan pembaruan terkait perkembangan kondisi siswa dan hasil pemeriksaan laboratorium sampel makanan dalam waktu dekat. Selain itu, tim kesehatan juga akan melakukan kunjungan kembali ke sekolah untuk memberikan penyuluhan mengenai keamanan pangan dan praktik makan yang sehat kepada siswa, guru, dan petugas kantin sekolah.
(red)
