WARGA SURABAYA KOMPAK TOLAK JUKIR LIAR, DINILAI SOLIDARITAS MELAWAN PRAKTIK ILEGAL YANG MERUGIKAN MASYARAKAT DAN PENGUSAHA

Nasional

Surabaya, 21 Januari 2026 – Belakangan ini, video yang menampilkan warga Surabaya yang kompak tidak memberikan uang parkir kepada juru parkir (jukir) liar menjadi ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam rekaman yang beredar luas, tampak para pelanggan sebuah toko modern di Surabaya yang langsung pergi meninggalkan lokasi parkir tanpa memberikan uang apapun, meskipun jukir liar tersebut beberapa kali membunyikan peluit untuk menarik perhatian mereka.

Tindakan tersebut membuat sang jukir emosi dan akhirnya pergi meninggalkan area sekitar toko. Dalam salah satu bagian video yang beredar, terdengar suara seorang pria yang mengatakan, “Loh nang endi mau wong e? Wong e ilang, gak onok, wong e gondok ilang gaboleh seng ngekeki (loh di mana orangnya? Orang parkirnya hilang, gak ada, orangnya ngambek gak ada yang memberi).”

Salah satu pelanggan toko modern yang terlibat dalam aksi tersebut, Alfarizi (sering disapa Fariz), menjelaskan bahwa tindakan bersama tersebut merupakan bentuk solidaritas warga Surabaya untuk melawan praktik jukir liar yang telah lama mengganggu masyarakat. Menurutnya, meskipun Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah beberapa kali melakukan penertiban, langkah tersebut belum cukup efektif dan membutuhkan dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat.

“Kalau hanya pemerintah kota sendiri, hanya beberapa orang sendiri yang melakukan itu, kemungkinan besar tukang parkir liar itu tidak akan pernah habis, pasti selalu akan ada,” kata Fariz kepada Kompascom pada Selasa (20/1/2026).

Fariz menambahkan bahwa keberadaan jukir liar tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga dapat memberikan dampak negatif bagi toko-toko modern atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi lokasi mangkal mereka. Banyak pelanggan yang akhirnya enggan datang ke tempat tersebut karena tidak nyaman dengan adanya jukir liar yang terus-menerus meminta uang.

“Sedangkan, toko modern itu juga sudah membayar pajak parkir ke Pemkot, terus jukir liar ini tiba-tiba datang dengan embel-embel uang parkir, kan enggak fair bagi pengusaha juga,” ujarnya.

Ia berharap bahwa Pemkot Surabaya dapat memberikan dukungan lebih maksimal kepada toko-toko modern maupun UMKM yang sering menjadi lokasi bagi jukir liar. Salah satu langkah yang diusulkannya adalah dengan melakukan penertiban secara rutin dan terjadwal.

“Jadi mereka kan sudah bayar pajak parkir, seharusnya Pemkot juga membantu misal sering-sering ada dari satpol PP atau Dishub yang melakukan pengecekan rutin setiap hari jam berapa,” terangnya.

Fariz juga menegaskan bahwa profesi jukir pada dasarnya merupakan pekerjaan yang sah dan layak dilakukan, selama mereka memiliki legalitas dan izin yang jelas dari pihak berwenang, serta benar-benar memberikan bantuan kepada pengendara dalam memasang atau mengambil kendaraan.

“Selama dia ada legalitasnya jelas, resmi, terus dia kalau pas kita dateng juga ada bantuin motor kita, ya sebenarnya gak masalah sih. Yang masalah itu kan kalau jukir liar, dia pas awal gak ada, tapi sewaktu kita mau pergi malah muncul,” ucapnya.

Sependapat dengan Fariz, Kayla Jasmin, salah satu pelanggan lainnya, mengaku seringkali mengabaikan adanya jukir liar di sekitar toko-toko modern yang telah menyatakan “Parkir Gratis” di area mereka. Menurutnya, praktik meminta uang padahal sudah ada pemberitahuan parkir gratis membuat banyak orang merasa tidak nyaman.

“Biasanya karena aku males ngasih, padahal sudah ada tulisannya ‘Parkir Gratis’, tapi masih minta-minta, apalagi kalau tiba-tiba dateng, ya males ngasih jadi langsung cabut saja,” ungkap Kayla.

Meskipun menolak praktik jukir liar, Kayla juga menyadari bahwa semakin banyaknya jukir liar di Surabaya tidak dapat dipisahkan dari berbagai faktor pendukung yang kompleks. Ia melihat bahwa kondisi ekonomi yang sulit, minimnya lapangan pekerjaan, serta rendahnya tingkat pendidikan menjadi beberapa faktor yang membuat sebagian orang terpaksa mengambil jalan tersebut.

“Tapi, kalau ditarik ke belakang faktor kemiskinan, lapangan pekerjaan yang sedikit, ekonomi semakin pelik, rendahnya pendidikan itu juga bisa jadi pendorong karena banyak orang akhirnya mau gak mau ambil pekerjaan itu,” pungkasnya.

Pihak Pemkot Surabaya melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menyatakan telah mengetahui mengenai video viral tersebut dan akan menindaklanjutinya dengan langkah-langkah yang tepat. Dalam keterangan tertulis yang diterima, Dishub Surabaya menyampaikan bahwa penertiban terhadap jukir liar akan terus dilakukan secara berkala, dan mereka juga akan meningkatkan sosialisasi mengenai perbedaan antara jukir resmi dan jukir liar kepada masyarakat. Selain itu, pihaknya juga sedang menyusun program pendampingan bagi para jukir liar untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan legal, sebagai upaya menyelesaikan masalah ini dari akar penyebabnya.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!