UPAYA PENGAKHIRAN HIDUP DI JEMBATAN SOEKARNO-HATTA MALANG DIDAPATKAN WARGA, WALIKOTA BERENCANA KUMPULKAN REKTOR UNIVERSITAS UNTUK CEGAH KASUS SERUPA

Nasional

Malang, 21 Januari 2026 – Pemerintah Kota Malang langsung mengambil langkah responsif setelah menerima laporan mengenai adanya upaya mengakhiri hidup yang terjadi di Jembatan Soekarno-Hatta (Soehat) pada dini hari kemarin. Kejadian yang berlangsung sekitar pukul 00.30 WIB membuat Wali Kota Malang Wahyu Hidayat segera merencanakan pertemuan dengan para rektor perguruan tinggi di Kota Malang dalam forum rektor, dengan tujuan utama mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Polsek Lowokwaru, upaya pengakhiran hidup di Jembatan Soehat pertama kali ditemukan oleh seorang warga bernama Teguh Sugiaharto Santoso. Kapolsek Lowokwaru Kompol Anang Tri Hananta menjelaskan kronologi kejadian yang membuat banyak pihak prihatin.

“Saat kejadian, yang bersangkutan (Teguh) sedang melintas di Jembatan Soehat. Dia melihat seorang perempuan menjatuhkan diri dari jembatan,” ujar Kompol Anang dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu (21/1/2026).

Setelah melihat kejadian tersebut, Teguh segera melaporkan kepada pihak berwenang dan membantu dalam proses penyelamatan korban. Tim penyelamat dari Dinas Kesehatan Kota Malang dan petugas kepolisian segera tiba di lokasi untuk memberikan pertolongan pertama. Korban yang berinisial DN (22 tahun) ternyata merupakan mahasiswi dari salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Malang. Saat ini, korban masih dalam perawatan intensif di rumah sakit umum daerah terdekat dan kondisinya sedang dalam pengawasan ketat oleh tim medis.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat yang segera meninjau lokasi kejadian dan mengunjungi korban di rumah sakit menyampaikan rasa prihatinnya terhadap peristiwa tersebut. Menurutnya, kasus seperti ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, melainkan seluruh komponen masyarakat, terutama institusi pendidikan yang menjadi tempat berkuliah bagi para pemuda.

“Kita tidak bisa tinggal diam melihat anak-anak muda kita mengalami kesulitan hingga berpikir untuk mengakhiri hidup. Saya telah menginstruksikan pihak terkait untuk segera mengatur pertemuan dengan para rektor perguruan tinggi di Malang dalam forum rektor. Kita perlu membahas langkah-langkah preventif yang komprehensif, mulai dari peningkatan layanan konseling hingga pemantauan kondisi psikologis mahasiswa,” jelas Wahyu Hidayat.

Dalam pertemuan yang direncanakan akan digelar pada hari Kamis (22/1/2026) mendatang, akan dibahas beberapa poin penting terkait pencegahan kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa. Antara lain adalah penyempurnaan sistem pendataan dan pemantauan mahasiswa yang mengalami kesulitan akademik atau masalah pribadi, peningkatan jumlah konselor profesional di setiap kampus, serta pembentukan jaringan dukungan antar mahasiswa yang dapat memberikan bantuan pada teman sebaya yang mengalami kesulitan.

Selain itu, Pemkot Malang juga akan mengevaluasi kondisi infrastruktur di Jembatan Soekarno-Hatta dan beberapa titik strategis lainnya di kota yang berpotensi menjadi lokasi upaya pengakhiran hidup. Rencana perbaikan dan penambahan fasilitas keamanan seperti pagar pengaman yang lebih tinggi serta pemasangan kamera pemantauan sedang dalam tahap perencanaan.

Kapolsek Lowokwaru Kompol Anang Tri Hananta menambahkan bahwa pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab mendasar yang membuat korban mengambil langkah ekstrem tersebut. Menurut informasi yang diperoleh dari keluarga korban, korban sempat mengalami kesulitan akademik dan masalah hubungan pribadi yang mungkin menjadi faktor penyebab kejadian tersebut.

“Kami bekerja sama dengan pihak kampus dan keluarga korban untuk mengungkap segala faktor yang mungkin menyebabkan peristiwa ini. Selain itu, kami juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya memberikan dukungan dan perhatian kepada orang-orang di sekitar kita yang mungkin sedang mengalami kesulitan,” ujarnya.

Pihak rumah sakit yang merawat korban menyampaikan bahwa kondisi korban saat ini sudah menunjukkan perbaikan meskipun masih membutuhkan waktu untuk pemulihan fisik dan psikologis yang menyeluruh. Tim konselor juga telah memberikan pendampingan kepada keluarga korban agar dapat memberikan dukungan yang tepat selama masa pemulihan.

Beberapa perguruan tinggi di Malang telah memberikan respon positif terhadap rencana pertemuan yang digagas oleh Wali Kota. Rektor salah satu universitas negeri di Malang, Profesor Bambang Setiawan, menyatakan bahwa pihaknya siap untuk bekerja sama dengan pemerintah kota dalam upaya mencegah kasus serupa.

“Kampus kami selalu berusaha memberikan dukungan terbaik bagi mahasiswa. Namun, kita menyadari bahwa masih ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Kami siap untuk berbagi pengalaman dan bekerja sama dalam membangun sistem dukungan yang lebih baik bagi para mahasiswa,” ujar Profesor Bambang.

Pemerintah Kota Malang juga mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitarnya. Jika menemukan seseorang yang menunjukkan tanda-tanda ingin mengakhiri hidup atau mengalami kesulitan psikologis, masyarakat diharapkan segera menghubungi pihak berwenang atau lembaga yang dapat memberikan bantuan, seperti hotline konseling yang telah disediakan oleh Dinas Sosial Kota Malang atau berbagai organisasi kesehatan jiwa.

“Saling menjaga dan memberikan dukungan adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita jadikan Malang sebagai kota yang aman, nyaman, dan penuh dengan perhatian terhadap sesama,” pungkas Wali Kota Wahyu Hidayat.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!