
SABTU, 17 JANUARI 2026 Negara Arab cuma punya minyak, rakyatnya kaya-raya. Indonesia punya minyak, gas, batu bara, nikel, tembaga, emas… rakyatnya ngantri bansos.” Kalimat ini bukan sekadar lelucon atau omongan sembarangan, melainkan sebuah tamparan yang menusuk dan ironi kelas berat yang harus diakui sebagai realitas yang terjadi di tanah air kita.
Di kawasan Timur Tengah, di mana sebagian besar wilayahnya adalah gurun yang hanya dihiasi pasir dan pancaran matahari, rakyatnya hidup dengan kemudahan yang patut diperhatikan – naik mobil mewah, menikmati pendidikan gratis, rumah disubsidi oleh negara, dan kesejahteraan hidup terjamin dengan baik. Namun di Indonesia, tanah yang subur, lautan yang luas, dan perut bumi yang penuh dengan kekayaan alam tak terhitung jumlahnya, rakyatnya justru disuruh bersyukur ketika mendapatkan bantuan beras 10 kilogram sebanyak dua kali dalam setahun. Ini adalah kenyataan yang sangat miris dan perlu menjadi renungan mendalam bagi seluruh elemen bangsa.
Indonesia pada hakikatnya bukanlah negara miskin. Kekayaan alam yang tersimpan di dalam negeri kita adalah salah satu yang terbesar di dunia – mulai dari energi fosil seperti minyak dan gas bumi, hingga mineral strategis seperti nikel, tembaga, emas, dan masih banyak lagi. Namun sayangnya, kekayaan alam yang melimpah tersebut tidak memberikan manfaat yang merata bagi seluruh rakyat. Yang benar-benar merasakan kemakmuran dari kekayaan sumber daya alam adalah segelintir orang saja, sementara sebagian besar rakyat harus terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.
Rakyat bekerja dari pagi hingga malam hari, berkeringat menggarap tanah, menangkap ikan di laut, atau bekerja di berbagai sektor ekonomi, namun hidup mereka tetap pas-pasan. Sementara itu, mereka yang duduk di kursi empuk di gedung-gedung pemerintah atau lingkaran bisnis elit seringkali menyampaikan pidato tentang “pertumbuhan ekonomi” yang pesat, sambil menikmati secangkir kopi mahal dan fasilitas mewah yang tidak dapat diraih oleh sebagian besar rakyat.
Penting untuk ditegaskan bahwa hal ini bukanlah soal rasa iri terhadap negara-negara di Timur Tengah. Namun pertanyaan yang harus diajukan adalah: mengapa sebuah negara yang kaya akan sumber daya alam seperti Indonesia justru harus hidup seperti negara yang miskin? Jawabannya tidak terletak pada takdir alam, melainkan pada faktor-faktor yang ada di dalam diri kita sendiri – kesalahan dalam pengelolaan sumber daya, kesalahan dalam penetapan prioritas pembangunan, dan kurangnya keadilan dalam pembagian hasil kekayaan negara.
Nikel kita diekspor dalam jumlah besar ke negara lain untuk diproses menjadi barang jadi yang bernilai tinggi, tembaga kita digali dengan usaha keras oleh pekerja lokal, emas kita diangkut keluar negeri dengan nilai yang fantastis. Namun manfaat dari semua itu hanya dirasakan oleh sebagian kecil kalangan yang memiliki akses dan kekuasaan. Rakyat yang menjadi ujung tombak dalam pengambilan dan pengolahan sumber daya alam justru menjadi pihak yang paling dirugikan – harus menghadapi dampak lingkungan yang buruk, upah yang tidak layak, dan kehidupan yang tidak pernah membaik.
Kita tidak bisa menyalahkan rakyat jika mereka mulai merasa sinis, mulai menunjukkan perasaan tidak puas, dan mulai bersuara lebih keras. Karena perut yang kosong dan kehidupan yang penuh kesusahan akan selalu lebih jujur daripada pidato-pidato indah yang tidak diimbangi dengan tindakan nyata. Rakyat Indonesia sudah terlalu lama ditipu dengan janji-janji dan kata-kata seperti “sabar”, padahal mereka telah memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan negara.
Jika negara ini benar-benar berpihak kepada rakyat, bukan kepada kelompok tertentu seperti cukong bisnis atau elit politik, maka seharusnya prinsip dasar yang berlaku adalah: “yang kaya bumi → kaya juga manusianya”. Namun kenyataan yang terjadi saat ini adalah sebaliknya – bumi terus digali hingga habis, sementara rakyat terus digilas oleh kesusahan dan ketidakadilan. Ini adalah masalah yang tidak bisa lagi dibiarkan berlanjut dan membutuhkan perubahan yang mendasar dari seluruh komponen bangsa.
(*)
