
Jakarta, 8 Januari 2026 – Ajaran agama yang mengajarkan tentang kekuatan do’a telah lama menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama di Indonesia. Salah satu ajaran yang banyak dikenal dan dipercaya oleh umat beragama adalah tentang “Do’a Seorang Ibu yang Mampu Menembus Langit”, yang juga menyertakan penjelasan mengenai tiga macam golongan yang do’anya mustajab dan tidak diragukan lagi kedahsyatannya, yaitu do’a orangtua kepada anaknya, do’a musafir (orang yang sedang bepergian), dan orang yang di dzolimi (orang yang diperlakukan tidak adil atau dizalimi).
Informasi mengenai hal ini yang telah banyak tersebar melalui berbagai media sosial dan bahan edukasi agama akhir-akhir ini kembali menarik perhatian masyarakat, terutama sebagai pengingat akan pentingnya do’a dalam kehidupan sehari-hari dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Banyak tokoh agama dari berbagai aliran kepercayaan di Indonesia menyampaikan bahwa ajaran ini memiliki makna yang sangat dalam dan relevan untuk dihayati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam kajian yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cabang Jakarta Pusat pada pekan lalu, Ketua Bidang Dakwah MUI Jakarta Pusat KH. Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa konsep do’a yang mustajab untuk ketiga golongan tersebut memiliki dasar yang kuat dalam ajaran agama Islam. Menurutnya, do’a orangtua kepada anaknya khususnya do’a seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena cinta seorang ibu terhadap anaknya adalah cinta yang paling tulus dan penuh pengorbanan.
“Do’a seorang ibu kepada anaknya memang memiliki kekuatan yang luar biasa dan dipercaya mampu menembus langit. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa do’a seorang ibu akan selalu mengikuti anaknya di mana pun dia berada. Cinta seorang ibu yang tulus tanpa pamrih membuat do’anya menjadi sangat dicintai oleh Allah SWT dan mudah untuk dikabulkan,” ujar KH. Abdul Mu’ti dalam kajian yang diikuti oleh ratusan peserta secara luring dan daring.
Ia juga menjelaskan bahwa ketiga golongan yang do’anya mustajab tersebut memiliki karakteristik khusus yang membuat do’a mereka menjadi lebih diperhatikan. Do’a orangtua kepada anaknya datang dari hati yang penuh cinta dan harapan terbaik untuk anaknya, do’a musafir datang dari hati yang penuh kerinduan kepada keluarga dan tanah air serta penuh dengan harapan keselamatan dalam perjalanan, sedangkan do’a orang yang di dzolimi datang dari hati yang penuh kesusahan dan harapan akan keadilan dari Sang Maha Kuasa.
“Setiap golongan ini memiliki kondisi hati yang berbeda, namun semuanya memiliki satu kesamaan yaitu do’a yang keluar dari hati yang tulus dan penuh dengan keikhlasan. Itulah yang membuat do’a mereka menjadi sangat berharga dan mudah untuk dikabulkan,” tambahnya.
Selain dari kalangan agama Islam, tokoh agama Kristen Protestan, Pendeta Dr. Paulus Wijaya dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Salemba juga menyampaikan pandangan serupa mengenai kekuatan do’a seorang ibu dan do’a dari golongan tertentu. Menurutnya, dalam ajaran Kristen juga diajarkan tentang pentingnya do’a, terutama do’a yang datang dari hati yang tulus dan penuh dengan keyakinan.
“Di dalam Alkitab juga banyak sekali ayat yang mengajarkan tentang kekuatan do’a. Do’a seorang ibu yang mendoakan anaknya dengan penuh cinta dan harapan adalah do’a yang sangat berharga di hadapan Tuhan. Begitu juga dengan do’a orang yang sedang dalam perjalanan atau orang yang sedang mengalami kesusahan dan diperlakukan tidak adil, do’a mereka akan selalu didengar oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,” ujar Pendeta Paulus Wijaya dalam kesempatan temu dengan jurnalis agama.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun ada perbedaan dalam bentuk dan cara berdo’a antar agama, namun esensi dari kekuatan do’a adalah sama, yaitu sebagai bentuk komunikasi dengan Yang Maha Kuasa dan sebagai sarana untuk memohon pertolongan, keberkahan, dan keadilan.
Peringatan tentang kekuatan do’a seorang ibu dan ketiga golongan yang do’anya mustajab ini juga mendapatkan tanggapan positif dari berbagai kalangan masyarakat. Banyak orang yang menyampaikan bahwa ajaran ini menjadi pengingat bagi mereka untuk lebih menghargai peran ibu dalam kehidupan mereka dan untuk selalu berdo’a dengan tulus serta penuh keyakinan.
Siti Nurhaliza (35), seorang ibu rumah tangga dari Kecamatan Cawang, Jakarta Timur menyampaikan bahwa ajaran ini membuatnya semakin menyadari pentingnya do’a yang dia berikan kepada anak-anaknya setiap hari. “Saya selalu berdo’a untuk anak-anak saya setiap pagi dan malam hari. Setelah mengetahui bahwa do’a seorang ibu mampu menembus langit, saya semakin termotivasi untuk selalu berdo’a dengan penuh keikhlasan dan harapan terbaik bagi mereka,” ujarnya.
Sementara itu, Ahmad Fauzi (28), seorang pekerja yang sering bepergian keluar kota untuk tugas kerja menyampaikan bahwa ia selalu berdo’a sebelum dan selama dalam perjalanan. “Saya selalu berdo’a agar diberikan keselamatan dalam perjalanan dan agar tugas yang saya emban dapat berjalan dengan lancar. Mengetahui bahwa do’a musafir adalah do’a yang mustajab membuat saya semakin yakin bahwa do’a saya akan selalu didengar,” katanya.
Selain dari kalangan masyarakat umum, ajaran ini juga menjadi bahan pembelajaran dalam berbagai lembaga pendidikan agama dan umum. Banyak sekolah dan madrasah yang menyertakan materi tentang kekuatan do’a dalam mata pelajaran agama mereka, dengan tujuan untuk membentuk karakter siswa yang memiliki rasa cinta kepada orangtua, rasa tanggung jawab dalam setiap perjalanan, serta rasa empati terhadap orang yang sedang mengalami kesusahan.
Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 5 Jakarta, Dra. Hj. Siti Maryam menjelaskan bahwa materi tentang kekuatan do’a seorang ibu dan ketiga golongan yang do’anya mustajab telah menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama di madrasah tersebut. “Kami ingin siswa-siswi kami memahami bahwa do’a bukan hanya sekadar ritual, tetapi memiliki makna yang sangat dalam dan dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka. Kami juga mengajak mereka untuk selalu menghargai peran ibu dan untuk selalu berdo’a dengan tulus,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pusat Kajian Agama dan Masyarakat dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab juga menyampaikan bahwa kajian tentang kekuatan do’a dalam berbagai agama memiliki nilai yang sangat penting untuk dikembangkan. Menurutnya, pengetahuan ini dapat menjadi jembatan untuk mempererat tali silaturahmi antar umat beragama dan untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis dan penuh kasih sayang.
“Kita perlu menyebarkan pengetahuan tentang kekuatan do’a ini dengan cara yang benar dan sesuai dengan ajaran masing-masing agama. Hal ini tidak hanya akan memperkuat keyakinan umat beragama, tetapi juga akan membantu membentuk masyarakat yang lebih baik, yang menghargai orang lain, terutama orangtua, dan yang memiliki rasa empati terhadap sesama,” jelas Prof. Quraish Shihab.
Ia juga menambahkan bahwa dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan hidup, do’a dapat menjadi sumber kekuatan dan harapan bagi setiap orang. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk selalu menjaga hubungan dengan Yang Maha Kuasa melalui do’a yang tulus dan penuh keyakinan.
Perbincangan tentang “Do’a Seorang Ibu Mampu Menembus Langit” dan tiga golongan yang do’anya mustajab ini juga menjadi topik hangat di berbagai platform media sosial. Banyak akun resmi dari lembaga agama, tokoh agama, dan masyarakat yang berbagi informasi serta pesan-pesan inspiratif terkait dengan kekuatan do’a. Konten-konten ini mendapatkan banyak tanggapan dan dibagikan oleh ribuan pengguna, menunjukkan bahwa pesan tentang pentingnya do’a masih sangat relevan dan diterima oleh masyarakat luas.
Sebagai penutup, berbagai tokoh agama dan masyarakat menyampaikan harapan bahwa pengetahuan tentang kekuatan do’a seorang ibu dan ketiga golongan yang do’anya mustajab ini dapat terus disebarkan dan dihayati oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta masyarakat yang lebih harmonis, penuh kasih sayang, dan memiliki keyakinan yang kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup.
“Semoga pengetahuan tentang kekuatan do’a ini dapat menjadi sumber berkah bagi kita semua. Mari kita jadikan do’a sebagai bagian penting dalam kehidupan kita, terutama do’a yang datang dari hati yang tulus dan penuh dengan cinta serta harapan terbaik bagi diri sendiri dan sesama,” pungkas KH. Abdul Mu’ti dalam kesimpulan kajiannya.
(*)
